Psikologi Keluarga II
KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK USIA REMAJA
(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Keluarga)
Dosen
Pengampuh:
Dr. Hj. Mufidah CH,M.Ag

Disusun Oleh:
Ummu Aemanah
11210078
JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIKIBRAHIM MALANG
2014
KATA
PENGANTAR
الرَّحِـيمالرَّحْمـَنِاللهِبسْـمِ
Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam
semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah SAW dan kepada keluarganya serta
para sahabat-sahabatnya. Berkat rahmat dan hidayah-Nya, penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini.
Kita mohon ampun kepada Alloh untuk
kita sendiri, kedua orang tua kita dan bagi kaum muslimin dari setiap dosa
berupa perkataan dan perbuatan serta bertaubat kepada-Nya dari setiap maksiat,
yaitu taubatnya seorang hamba yang tak mampu menolak kesesatan dari dirinya.
Terimakasih penyusun sampaikan
kepada Dosen pengampu mata kuliah Psikologi Keluarga II yang senantiasa
menginspirasi penyusun sehingga timbullah motivasi bagi penulis untuk
menyelesaikan tugas ini dengan sebaik mungkin yang penyusun bisa.
Tentunya
tugas yang penyususn buat tersebut jauh dari kata sempurna, baik dari gaya
bahasanya, penulisanya ataupun pembahasanya. Oleh karena itu penyusun minta
maaf sebesar–besarnya kepada pembaca jika terdapat banyak sekali kekurangan
dalam penyusun makalah ini.
Pada
akhirnya, diharapkan makalah ini memberi manfaat yang banyak kepada penulis
maupun pembaca dan umat Nabi Muhammad SAW.
Malang, 25 Juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
A.
Konteks
Masalah..................................................................................................... 1
B.
Tujuan
..................................................................................................................... 1
BAB II PROFIL NARASUMBER....................................................................................... 2
BAB III ANALISIS PSIKOLOGI......................................................................................... 3
A.
Hasil
wawancara...................................................................................................... 3
B.
Analisis.................................................................................................................... 4
1.
Remaja ............................................................................................................. 4
2.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan.................................................................. 6
3.
Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan
Terlarang........................................ 6
4.
Ciri-ciri atau Karakteristik
Psikologi Remaja................................................. 9
a. Perkembangan
Fisik Psikologi Remaja..................................................... 9
b.
Perkembangan Kognitif Psikologi
Remaja.............................................. 10
d.
Pekembangan Moral Psikologi Remaja................................................... 11
e.
Perkembangan Sosial Psikologi Remaja................................................. 11
f.
Perkembangan Kepribadian Psikologi
Remaja....................................... 11
g.
Perkembangan Kesadaran Beragama ...................................................... 12
5. Peran orang
tua yang memiliki anak berusia remaja.................................... 12
BAB IV PENUTUP............................................................................................................ 14
A.
Kesimpulan............................................................................................................ 14
B.
Lampiran
.............................................................................................................. 15
DAFTAR USTAKA........................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Konteks
Masalah
Akhir-akhir
ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak
mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga
sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung
terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam
keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung
ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan
nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang
berbeda. Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit
dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas.
Dari situlah
penulis terinspirasi untuk meneliti sikap dan tingkah laku sebuah keluarga yang
mempunyai anak usia remaja sebagai obyek penelitian penulis, bagaimana tindakan
sebuah keluarga dalam mendidik anak yang berusia remaja, dikarenakan remaja
adalah remaja (adolescene) yang diartikan sebagai masa perkembangan transisi
antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif,
dan sosial-emosional.
B.
Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana cara sebuah keluarga dalam mendidik anak
yang berusia remaja di jaman sekarang (modern) yang sudah serba bebas dan
maraknya kenakalan remaja dan juga serba instan, canggih, yang dapat
mempengaruhi faktor perkembangan anak yang berusia remaja. Selain itu juga
untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester matakuliah psikologi keluarga II.
BAB II
PROFIL NARASUMBER
Dalam hal ini penulis mewawancari seorang bapak yang bernama
Ngadiari, dengan usia 35 tahun yang mempunyai istri yang bernama Susanti yang
berusia 30 tahun. Mereka baru mempunyai anak 1 berjenis kelamin laki-laki, yang
bernama Iwan Setiawan, berusia 18 tahun. Mereka tinggal di desa samaan Jl.
Anyelir no. 35. Malang.
Pak ngadiari bekerja sebagai ngabdi di masjid jami’ tempatnya di
alun-alun malang. Kesehariannya beliau adalah ngurusin masjid jami’ ngabdi,
mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, menjaga parkiran di masjid
jami’ dan lain sebagainya yang berhubungan dengan masjid jami’. Beliau tinggal
berdua dengan anaknya karena istri beliau bekerja di saudi selama 3 tahun dari
mulai tahun 2011 namun tidak lama lagi istri beliau pulang ke indonesia. Warga
di daerah beliau kebanyakan kumpulan pemabuk, penjudi dan sejenisnya. Namun
meskipun begitu hubungan beliau dengan warga sekitar baik- baik saja. Beliau
sangat toleran terhadap warga, seringkali beliau menasehati mereka agar kembali
pada jalan yang benar. Menurutnya itu adalah tugas beliau untuk mengingatkan
mereka.
Pola berfikir beliau dalam mendidik anak itu cenderung lebih ke
agama, beliau selalu mengaitkannya dengan permasalahan agama. Sehingga
anaknyapun bergerak luasnya dalam ranah agama seperti keseharian anaknya itu
lebih banyak diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang berbau agama. Namun meskipun
pola pikir beliau selalu agamis, beliau juga tidak mengesampingkan pendidikan
anaknya. Anak beliau disekolahkan di SD, SMP, SMK, dan sekarang anaknya sudah
bekerja di perusahaan batu bara.
BAB III
ANALISIS PSIKOLOGI
A.
Hasil wawancara
Hasil
wawancara dengan pak ngadiari yang mempunyai anak remaja (umur 18 tahun)
“kalo menurut saya mba ya, cara untuk mendidik anak itu simpel sih,
yang pertama di doakan,itu utama mba sebagai orang tua itu harus mendoakan
anaknya, orang tua mana yang mau anaknya berantakan tidak jelas mba, pastinya
semua orang tua itu menginginkan anak yang sholeh-sholeha toh mba, nah salah
satu caranya ya dengan mendoakan itu mba. Terus yang kedua itu di ajar, diajar
itu bukan berarti di ajar fisiknya mba, tapi diajar hatinya, ya secara rohani
gitu mba. Terus yang ketiga itu dikasih contoh yang baik-baik. Kalau dalam
masalah pergaulan, dilingkungan rumah saya itu mba rata-rata pemabuk semua mba,
jadi dalam mendidik anak saya juga berjaga-jaga mba, kalau berangkat sekolah
itu saya antar mba sampai di depan sekolahnya pas. Gak pernah saya gak ngantar
anak saya. Kan kebetulan sekolahannya juga agak jauh kalau jalan kaki. Dan
kebetulan motor itu Cuma satu jadi dia belum boleh bawa motor kesekolahnya. Dia
juga gak malu kok mba kalau di antar. Kemaren dia lulus SMK itu mba terus
langsung dapet kerjaan di perusahaan batu bara itu. Kan itu yang kita dapet
selama ini saya nganter dia kalau sekolah, soalnya temen-temennya dia itu mba
iya dari rumahnya aja berangkat sekolah, tapi gak sampe di sekolahan. Jadi ya
kelas dua putus sekolah, terus ya hidupnya klantang kluntung gak jelas. Tapi
alhamdulillah anak saya sekarang sudah kerja. Lulusnya itu baru tahun ini kok
mba. Kemudian dalam mendidik anak saya gak batesin dia. Dia maunya apa saya
turuti selagi itu baik. Terus kalau menurut saya gak baik ya saya nasehati dia
perlahan, dan alhamdulillahnya dia juga mau ngerti kok mba. Apalagi kalo arema
main itu mba, saya suruh dia nonton tak kasih duit buat nontonnya mba. Dia suka
sama arema, makannya dimanapun arema main pasti dia nonton. Pkoknya mba kalau
masalah pergaulan itu terserah, tapi saya awasi dia betul mba.Tapi tanpa
sepengetahuan dia. Jadi ya saya awasi dia dari jauh mba. Pkoknya selalu saya
pantau dia”.
“Saran saya mba ya untuk orang tua yang mempunyai anak usia remaja
itu ya dipantaulah dengan baik di didik dengan baik dengan dikasih
contoh-contoh yang baik, dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu,terus lagi
tidak terlalu mengekang, tapi selalu dipantau agar tidak terjerumus di jalan
yang salah. Itu saja saran saya buat keluarga yang lain”.
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa bapak
ngadiari selaku seorang ayah ketika mendidik anak beliau memberi peluang bebas
terhadap anak untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan ketika anak
akan memilih atau dalam posisi yang salah, maka tugas orang tua adalah
menasehatinya mengembalikan anak tersebut kepada jalan yang benar. Tugas orang
tua hanyalah mendampingi dan menampung segala ide-ide yang dikeluarkan oleh
anak, kemudian beliau arahkan pada posisi yang benar. Beliau memperhatikan
betul pergaulan anaknya sehingga anaknya tidak menjadi anak yang nakal dan suka
minum minuman keras yang selama ini kebanyakan warga sekelilingnya lakukan.
B.
Analisis
1. Remaja
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah
mereka yang berada pada usia 12-18 tahun.[1]
Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun.[2]
Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang
12-23 tahun.[3] Berdasarkan
batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa
remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan
ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang
diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan
permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal
abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley
Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm
and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah
masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan
Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status
identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium,
foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk,
2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses
untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri
remaja.[4]
Untuk itu pak ngadiari sangat
berhati hati dalam mendidik anaknya karena dalam tahap ini mereka akan
menentukan masa depan mereka, dalam membentuknya menjadi pribadi yang baik
harus didasari dengan suatu kebaikan. Dalam tahap ini komunikasi sangatlah penting
antara orang tua dan anak. Agar akan selalu merasa terlindungi dan nyaman dalam
hubungan berkeluarga.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa
karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri
remaja, yaitu:[5]
- Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
- Ketidakstabilan emosi.
- Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
- Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
- Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
- Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
- Senang bereksperimentasi.
- Senang bereksplorasi.
- Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
- Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori
perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang
cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan
pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan
baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis,
fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya
banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini
dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
2. Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik
banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja
yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan
fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka
terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik
ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik
orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering
mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan
bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari
bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam
sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami
ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998).
Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran
yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok,
dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton,
2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai
pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy
& Herman, 1999; Thompson et al).[6]
Dalam masalah kesehatan tidak banyak
remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang
tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa
kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik
mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
3. Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan alkohol dan obat-obatan
terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk
menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini
sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/
napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang
terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa
remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa
percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.[7]
a.
Pengaruh sosial dan interpersonal:
termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan.
Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan
perpisahan orang tua.
- Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
- Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
- Cinta dan Hubungan Heteroseksual
- Permasalahan Seksual
- Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
- Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith
& Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan
perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal.
Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan
rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Jenis pengaruh yang memungkinkan
munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
Salah satu akibat dari berfungsinya
hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya
perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini
bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic
love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering
menyebutnya “jatuh cinta”. Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis
menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting
bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur
seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak
semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid
& Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab
seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman. Tipe
cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang
sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk
memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang
untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan
orang dewasa daripada percintaan remaja.
Dengan telah matangnya organ-organ
seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan
seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana
mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan
mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya
berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual,
kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).[8]
Diantara perubahan-perubahan yang
terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan
remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis
yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman
sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Beberapa konflik yang biasa terjadi
antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari
seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur.
Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan
penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja. Beberapa remaja juga
mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau
sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa
anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja
sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa
bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di
dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa
bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat
berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di
lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku
oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan
remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali
internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan
perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari
serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Dari beberapa bukti dan fakta
tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat
menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja
mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda
dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi
orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar
mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.
4. Ciri-ciri atau Karakteristik Psikologi Remaja
a.
Perkembangan
Fisik Psikologi Remaja
Fase remaja adalah periode kehidupan
manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan
berikutnya. Pada remaja awal,
pertumbuhan fisiknya sangat pesat tetapi tidak proporsional, misalnya pada
hidung, tangan, dan kaki. Pada remaja akhir,proporsi tubuhmencapai ukuran tubuh
orang dewasa dalam semua bagiannya (Syamsu Yusuf :2005). Berkaitan dengan
perkembangan fisik ini, perkembangan terpenting adalah aspek seksualitas ini
dapat dipilah menjadi dua bagian, yakni :
1) Ciri-ciri
Seks Primer
Perkembangan psikologi
remaja pria mengalami pertumbuhan pesat pada organ testis, pembuluh yang
memproduksi sperma dan kelenjar prostat. Kematangan organ-organ seksualitas ini
memungkinkan remaja pria, sekitar usia 14 – 15 tahun, mengalami “mimpi basah”,
keluar sperma. Pada remaja wanita, terjadi pertumbuhan cepat pada organ rahim
dan ovarium yang memproduksi ovum (sel telur) dan hormon untuk kehamilan.
Akibatnya terjadilah siklus “menarche” (menstruasi pertama). Siklus awal
menstruasi sering diiringi dengan sakit kepala, sakit pinggang, kelelahan,
depresi, dan mudah tersinggung.
2) Ciri-ciri
Seks Sekunder
Perkembangan psikologi remaja pada
seksualitas sekunder adalah pertumbuhan yang melengkapi kematangan individu
sehingga tampak sebagai lelaki atau perempuan. Remaja pria mengalami
pertumbuhan bulu-bulu pada kumis, jambang, janggut, tangan, kaki, ketiak, dan
kelaminnya. Pada pria telah tumbuh jakun dan suara remaja pria berubah menjadi
parau dan rendah. Kulit berubah menjadi kasar. Pada remaja wanita juga
mengalami pertumbuhan bulu-bulu secara lebih terbatas, yakni pada ketiak dan
kelamin. Pertumbuhan juga terjadi pada kelenjar yang bakal memproduksi air susu
di buah dada, serta pertumbuhan pada pinggul sehingga menjadi wanita dewasa
secara proporsional.
b.
Perkembangan
Kognitif Psikologi Remaja
Pertumbuhan otak mencapai
kesempurnaan pada usia 12–20 thn secara fungsional, perkembangan kognitif
(kemampuan berfikir) remaja dapat
digambarkan sebagai berikut
1. Secara intelektual
remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak
2. Berfungsinya
kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat
keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah
3. Sudah mampu
menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak
5. Memikirkan
masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya
7. Wawasan
berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan
identitas (jati diri)
Remaja
mengalami puncak emosionalitasnya, perkembangan emosi tingkat tinggi. Perkembangan emosi remaja awal
menunjukkan sifat sensitif, reaktif yang kuat, emosinya bersifat negatif dan
temperamental (mudah tersinggung, marah, sedih, dan murung). Sedangkan remaja
akhir sudah mulai mampu mengendalikannya. Remaja yangberkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan
emosionalnyaterhambat. Sehingga sering mengalami akibat negatif berupa tingkah
laku “salah suai”, misalnya :
1.
Agresif : melawan, keras kepala,
berkelahi, suka menggangu dan lain-lainnya
2.
Lari dari kenyataan (regresif)
: suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengkonsumsi obat penenang, minuman
keras, atau obat terlarang
Sedangkan
remaja yang tinggal di lingkungan yang kondusif dan harmonis dapat membantu
kematangan emosi remaja menjadi :
1.
Adekuasi (ketepatan) emosi : cinta,
kasih sayang, simpati, altruis (senang menolong), respek (sikap hormat dan
menghormati orang lain), ramah, dan lain-lainnya
2.
Mengendalikan emosi : tidak mudah
tersinggung, tidak agresif, wajar, optimistik, tidak meledak-ledak, menghadapi
kegagalan secara sehat dan bijak
d.
Pekembangan
Moral Psikologi Remaja
Remaja sudah mampu berperilaku yang
tidak hanya mengejar kepuasan fisik saja, tetapi meningkat pada tatanan
psikologis (rasa diterima, dihargai, dan penilaian positif dari orang lain).
e.
Perkembangan
Sosial Psikologi Remaja
Remaja telah mengalami perkembangan
kemampuan untuk memahami orang lain (social cognition) dan menjalin
persahabatan. Remaja memilih teman yang memiliki sifat dan kualitas psikologis
yang relatif sama dengan dirinya, misalnya sama hobi, minat, sikap,
nilai-nilai, dan kepribadiannya. Perkembangan sikap yang cukup rawan
pada remaja adalah sikap comformity yaitu kecenderungan untuk menyerah
dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat. Misalnya dalam hal pendapat,
pikiran, nilai-nilai, gaya hidup, kebiasaan, kegemaran, keinginan, dan
lain-lainnya.
f.
Perkembangan
Kepribadian Psikologi Remaja
Isu sentral pada remaja adalah masa
berkembangnya identitas diri (jati diri) yang bakal menjadi dasar bagi masa
dewasa. Remaja mulai sibuk dan heboh dengan problem “siapa saya?” (Who am I
?). Terkait dengan hal tersebut remaja juga risau mencari idola-idola dalam
hidupnya yang dijadikan tokoh panutan dan kebanggaan. Faktor-faktor penting
dalam perkembangan integritas pribadi remaja (psikologi remaja) adalah :
1.
Pertumbuhan fisik semakin dewasa,
membawa konsekuensi untuk berperilaku dewasa pula
2.
Kematangan seksual berimplikasi
kepada dorongan dan emosi-emosi baru
3.
Munculnya kesadaran terhadap diri
dan mengevaluasi kembali obsesi dan cita-citanya
5.
Munculnya konflik-konflik sebagai
akibat masa transisi dari masa anak menuju dewasa. Remaja akhir sudah mulai
dapat memahami, mengarahkan, mengembangkan, dan memelihara identitas diri
Tindakan antisipasi remaja akhir adalah:
1. Berusaha
bersikap hati-hati dalam berperilaku dan menyikapi kelebihan dirinya
2. Mengkaji
tujuan dan keputusan untuk menjadi model manusia yang diidamkan
3. Memperhatikan
etika masyarakat, kehendak orang tua, dan sikap teman-temannya
4. Mengembangkan
sikap-sikap pribadinya
g.
Perkembangan
Kesadaran Beragama
Iman dan hati adalah penentu
perilaku dan perbuatan seseorang. Bagaimana perkembangan spiritual ini terjadi
pada psikologi remaja? Sesuai dengan perkembangannya kemampuan kritis psikologi
remaja hingga menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai
membawa nilai-nilai agama ke dalam kalbu dan kehidupannya. Tetapi mereka juga
mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya
hidupnya kurang memedulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan
perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual remaja
mengalami benturan-benturan dan ujian.
5. Peran orang tua yang memiliki anak berusia remaja
Untuk itu sebagai orangtua, dalam mengahadapi remaja harus tetap bersikap
tenang dan bertahan, mengingat bahwa ini adalah masa pemberontakan mereka
sebagai remaja. Namun Tidak berarti mereka boleh bersikap seenaknya, tetapi
sebagai orang tua sekali lagi ketenangan dalam menyikapi mereka yang sekarang
ini INGIN DIDENGAR suaranya, orang tua mendengarkan apa yang mereka inginkan
atau mereka maksud. Jadikan dialog dan diskusi bagian dari keluarga. Dengan
demikian mereka tahu bahwa orang tua selalu ada untuk mereka saat mereka butuh.
Upayakan
mendorong aturan keluarga, habiskan waktu bersama dengan kualitas yang baik,
fokuskan perhatian orang tua pada kebutuhan mereka dan beri pujian pada
perilaku yang positif. saat ini mereka sedang tidak ingin banyak mendengar
tetapi mereka ingin didengar, jadi berikan waktu, perhatian dan pikiran anda
untuk anak anda baik sebagai orang tua yg tetap harus memberi arahan atau
sebagai teman dimana mereka bisa bertanya dan berdiskusi.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
hasil wawancara beserta analisis diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga dalam
mendidik anak yang berusia remaja itu sangatlah berhati-hati, karena remaja
adalah masa yang
penuh dengan permasalahan. masa terjadinya krisis identitas atau pencarian
identitas diri. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari
identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Untuk itu timbul kecemasan-kecemasan
pada orang tua dalam mendidik anak yang berusia remaja. Namun kadang
kehawatiran ini akan menimbulkan petaka bagi orang tua tersebut jika ia tidak
pandai-pandai dalam memahami itu semua. Untuk itu sebagai orangtua, dalam mengahadapi remaja harus tetap bersikap
tenang dan bertahan, mengingat bahwa ini adalah masa pemberontakan mereka
sebagai remaja. Namun Tidak berarti mereka boleh bersikap seenaknya, tetapi
sebagai orang tua sekali lagi ketenangan dalam menyikapi mereka yang sekarang
ini ingin didengar suaranya, orang tua mendengarkan apa yang mereka inginkan
atau mereka maksud. Jadikan dialog dan diskusi bagian dari keluarga. Dengan
demikian mereka tahu bahwa orang tua selalu ada untuk mereka saat mereka butuh.
Dalam
kaitannya dengan mendidik anak usia remaja, orang tu juga harus memahami
ciri-ciri atau karakter psikologi remaja, diantaranya yaitu :
1.
Perkembangan Fisik Psikologi Remaja
2.
Perkembangan Kognitif Psikologi
Remaja
4.
Pekembangan Moral Psikologi Remaja
5.
Perkembangan Sosial Psikologi Remaja
6.
Perkembangan Kepribadian Psikologi
Remaja
7.
Perkembangan Kesadaran Beragama
B.
Lampiran
:
DAFTAR USTAKA
Gunarsa, S. D. Psikologi Perkembangan:
Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia,1989.
Hurlock, E.B. Psikolgi
Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh
Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Erlangga, 1991.
Mongks, F. J.dkk. Perkembangan:
Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2000.
Santrok, J. W. Adolescence
(Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003.
Setiono, L.H. Beberapa Permasalahan
Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 juni 2014, 2002.
[1]
E.B.Hurlock, Psikolgi
Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh
Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga, 1991.
[2]
Mongks, F. J.dkk. Perkembangan:
Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2000.
[4] Santrok, J. W. Adolescence (Perkembangan Remaja).
Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003
[5]Gunarsa, S. D. Psikologi
Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia,1989.
[6]
Santrok, J. W. Adolescence
(Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003.
[7]
Santrok, J. W. Adolescence
(Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003.
[8]
Santrok, J. W. Adolescence
(Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar