Selasa, 23 Desember 2014

makalah manajemen konflik



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konflik merupakan salah satu esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia yang mempunyai karakteristik yang beragama. Manusia mempunyai perbedaan jenis kelamin, strata sosial dan ekonomi, sistem hukum, bangsa, suku, agama, kepercayaan, aliran, politik, serta budaya dan tujuan hidupnya. Dalam sejarah umat manusia inilah yang selalu menimbulkan konflik. Selama masih ada perbedaan tersebut konflik tidak dapat dihindaridan selalu akan terjadi. Dari sini ada benarnya jika sejarah umat manusia merupakan sejarah konflik.
Konflik selalu terjadi di dunia, dalam sistem sosial yang bernama negara, bangsa, organisasi, perusahaan dan bahkan dalam sistem sosial terkecil yang bernama keluarga dan pertemanan. Konflik terjadi di masa lalu, sekarang dan pasti akan terjadi di masa depan. Dengan demikian manusia selalu dihadapkan pada konflik selama hidupnya, untuk itu kita harus memahami apa itu konflik dan bagaimana langkah-langkah agar dapat terbebas dari konflik tersebut

B.    Rumusan masalah
Disusunnya makalah ini tentu saja bukan tanpa alasan yang jelas, diantara alasan-alasan yang melatarbelakangi disusunnya makalah ini adalah karena adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penyusun, yang penyusun  sebut sebagai rumusan masalah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.     Apa definisi manajemen konflik?
2.     Aspek-aspek apa saja yang terkait dengan manajemen konflik ?
3.     Apa saja teori konflik itu dan sebutkan beberapa contoh peristiwa konflik dan solusinya?

C.    Tujuan
Sebagaimana yang ada di dalam rumusan masalah yang memuat beberapa pertanyaan mengenai materi yang dibahas dalam makalah ini, maka disinipun tidak akan jauh berbeda dengan tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu adalah untuk memahami hal-hal berikut, diantaranya:
1.     Memahami definisi manajemen konflik
2.     Mengetahui aspek-aspek yang berhubungan dengan manajemen konflik
3.     Mengetahui teori konflik, contoh peristiwa konflik serta solusinya.

BAB II
PEMBAHASAN
1.     Definisi  Manajemen Konflik
A.    Manajemen
Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia  Maneggiare  (Haney dalam Mardianto, 2000) yang berarti melatih kuda-kuda atau secara harfiah to handle yang berarti mengendalikan, sedangkan dalam kamus Inggris Indonesia (Echols dan Shadily, 2000)  management  berarti pengelolaan dan istilah manager berarti tindakan membimbing atau memimpin, sedangkan dalam bahasa Cina, manajemen adalah kuan lee  yang berasal dari dua kata yaitu kuan khung  (mengawasi orang kerja) dan  lee chai  (menmanajemen konfliksi uang) (Mardianto, 2000).[1]
Sehingga manajemem dapat didefinisikan sebagai mengawasi/mengatur orang bekerja dan menmanajemen konfliksi administrasi dengan baik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia  (1997) manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai Spiritual tujuan. Manajemen merupakan proses penting yang menggerakkan organisasi karena tanpa manajemen yang efektif tidak akan ada usaha yang berhasil cukup lama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen sebuah tindakan yang berhubungan dengan usaha tertentu dan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai Spiritual tujuan.
B.    Konflik
Sejumlah pakar berpendapat bahwa konflik merupakan elemen penting dari kepemimpinan dan manajemen.
Robert R.blake dan Anne A. McCanse (1991) berpendapat bahwa :
elemen kepemimpinan adalah :
-        penyelesaian (conflict solving),
-        inisiatif (initiative),
-        penyelidikan (inquiry),
-        advokasi/pembelaan (advocacy),
-        pengambilan keputusan ( decision making),
-        kritik (critique)
mereka memberikan perhatian besar terhadap konflik dan manajemen konflik dalam teori kepemimpinan mereka. Gaya kepememimpinan para pemimpin dan manajer misalnya,ditentukan oleh asumsi mereka mengenai konflik. Dari sini teori yang mereka jelaskan mengemukakan pentingnya para pemimpin dan  manajer menguasai teori dan keterampilan mengenai konflik dan manajemen konflik.
Istilah konflik berasal dari kata kerja bahasa latin configere yang berarti saling memukul. Dari bahasa latin diadopsi ke bahasa inggris,conflict yang kemudian diadopsi kedalam bahasa indonesia .
Definisi konflik menurut para pakar[2]

Menurut
Definisi konflik
Joce L.hocker & william W.wilmot
“An expressed struggle between at least two interdependent parties who perceived incompatible goal,scarce rewards,and interference from other party in achieving their goals.”
Joel A.digirolamo
“A process that begins when an individual or group perceives differences and opposition between itself and another individual or group about interests and resources,beliefs,values,or practices that matter to them.”
Stephen P.robbins (1990)
“We define conflict as a process in which an efford is purposely made by A to offset the efforts of B in attaining his goals or furthering his interests.”
Gareth R.jones (1995)
“Organizational conflict is the clash that occurs when the goal-directed behavior of one droup blocks or thwarts the goals of another.”
Daniel dana (2001)
“Workplace conflict : a condition between or among workers whose jobs are interdependent, whose feel angry, who perceive the other (s) as being at fault, and who act in a way ways that cause a business problem.”
Wikipedia
“Conflict is a state of discord caused by the actual or perbeived opposition of needs,values and interest.”
J. frost & W.wilmot (1978)
“Conflict is the interaction of interdependent people who perceive incompatible goals and interference from each other in achieving those goals.”
Kirk blackard & James W.gibson (2003)
“Workplace conflict is a dynamic process reflecting the interaction of two or more interde who have pendent parties same level of difference or incompatibility between them.”

Definisi yang dikemukakan para pakar tersebut tampak berbeda,meskipun intinya sama, karena mereka mendefinisikan konflik dari prespektif yang berbeda, ada yang mendefinisikan dari prespektif psikologi,sains prilaku,sosial,komunikasi,antropologi dan ilmu sosial.
Konflik adalah proses pertentangan yang diekspresikan diantara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik,menggunakan pola prilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik.
Dari definisi tersebut dapat diartikan sebagai berikut :
a.      Proses : konflik terjadi melalui suatu proses yang unik,artinya proses terjadinya suatu konflik berbeda dengan konflik lainnya. 
Seperti dalam tabel berikut :[3]
Masukan
Proses
Keluaran
a.      pihak yang terlibat konflik (pemimpin,pengikut,pihak luar,dan sistem sosial) berbeda :
-        idiologi dan pola pikir
-        tujuan dan cara mencapai tujuan
-        sifat pribadi
-        latar belakang : pendidikan,agama,pengalaman dan lain-lain
-        pola perilaku
-        visi,misi dan strategi sistem sosial
b.     interdependensi pihak-piha yang terlibat onflik
c.      kekuasaan
d.     gaya manajemen konflik
e.      asumsi mengenai konflik
f.      sumber-sumber yang terbatas
g.     budaya sistem sosial
a.      interaksi sosial konflik dalam fase-fase konflik
b.     memperbesar dan menggunakan kekuasaan
c.      manajemen konflik
-        strategi konflik
-        taktik konflik
-        gaya manajemen konflik
d.     agresi
e.      manajemen konflik
-        mengatur sendiri
-        intervens pihak ketiga :
proses pengadilan,
proses administrasi,
arbitrase,mediasi,ombudsman
a.      frustrasi
b.     marah dan dendam
c.      kecewa
d.     sumber tidak dipakai untuk prosuktivitas
e.      konflik berlangsung terus menerus tanpa solusi
f.      terciptanya sinergi negatif atau sinergi positif
g.     produktifitas menurun
h.     resolusi konflik
-        menang><menang
-        menang><kalah
-        kalah><kalah
i.       terciptanya norma dan nilai-nilai baru
j.       perubahan sistem sosial

Dari tabel tersebut menggambarkan model linier proses konflik yang terjadi dari masukan, proses, dan keluaran konflik. Setiap konflik mempunyai masukan, proses, dan keluaran konflik yang unik dan berbeda dengan konflik lainnya.
Istilah proses juga digunakan dalam pengertian konflik namun tidak terjadi seketika,tetapi memerlukan waktu dari terjadinya perbedaan sampai terjadinya solusi konflik
b.     dua pihak atau lebih : kecuali konflik personal, konflik terjadi diantara dua pihak atau lebih . pihak yang terlibat konflik (individu-individu, individu-kelompok, kelompok-kelompok,organsasi-organisasi)
c.      saling tergantung : pihak yang terlibat konflik saling tergantung atau interdependen satu sama lain. Artinya pihak-pihak tersebut tidak bebas untuk melakukan sesuatu tanpa campur tangan atau bantuan,izin, dan merugikan atau mengurangi kebebasan pihak lainnya.
d.     Pertentangan mengenai objek konflik : objek konflik adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya konflik. Pihak yang terlibat konflik mempunyai perbedaan pendapat,yaitu sikap atau kepercayaan mengenai objek konflik.
e.      Diekspresikan : pertentangan akan menjadi konflik jika di ekspresikan. Jika pertentangan tidak atau belum diekspresikan,maka konflik bersifat laten atau tidak kelihatan. Mungkin perbedaan pendapta mengenai objek konflik sudah terjadi,tetapi kedua belah pihak diam saja dan belum terjadi interaksi mengenai perbedaan tentang objek konflik. Konflik baru terjadi ketika perbedaan tersebut diinteraksikan. Ekspresi mengenai objek konflik merupakan kejadian pemicu terjadinya konflik. Pengekspresian dapat menggunakan bahasa verbal,bahasa badan,atau bahasa tertulis.
f.      Pola prilaku : saat konflik terjadi,pihak yang terlibat menggunakan pola prilaku tertentu. Pola prilaku adalah kecenderungan orang untuk berperilaku secara tertentu dalam menghadapi situasi konflik. Gaya manajemen konflik dipengaruhi sejumlah faktor yang akan dibahas lebih terperinci pada pembahasan selanjutnya.
g.     Interaksi konflik : proses konflik menimbulkan interaksi konflik diantara para pihak . interaksi bisa berupa menuduh,saling menyalahkan,saling mengumpat, mencari teman, menyelamatkan muka (face saving),saling melakukan agresi,melakukan negoisasi,atau meminta bantuan pihak ketiga untuk menyelesaikan konflik.
h.     Keluaran konflik : interaksi konflik diantara para pihak menghasilkan keluaran konflik yang unik, untuk masing-masing jenis konflik. Keluaran konflik bisa berupa ditemukannya solusi atas suatu konflik,seperti win & win solution,win & lose solution, lose &lose solution. Keluaran konflik juga bisa menciptakan suatu perubahan sistem sosial.



C.    Manajemen konflik
Berikut Definisi manajemen konflik menurut para ahli [4]

Lynne irvine (1998)
“The strategy which organizations and individual employ to identify and manage differences,thereby reducing the human and financial costs or unmanaged conflict,while harnessing conflict as a source of innovation and improvement.”
Wikipedia
“Conflict management refers to the long-term management of intractable conflict. It is label for the variety of ways by wich people handle grievances standing up for what they consider to be right and against what the consider to be wrong. Those ways include such diverse phenomenan as gossip, ridicule, lyching, terrorism, warfare, feuding, genocide, law, mediation, and avoidance.”
United States Transfortation Security Administration
“Identifies and takes steps to prevent potential situations that could result in unpleasant confrontations resolve conflicts and disagreements in a positive and constructive manner to minimize negative impact.”

Berbagai definisi tersebut memiliki formulasi yang berbeda,namun mempunyai inti atau makna yang sama.
Manajemen konflik : sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.
2.     Aspek-aspek yang terkait dengan manajemen konflik
Menurut Gottman dan Korkoff (Mardianto, 2000) menyebutkan bahwa secara garis besar ada dua manajemen konflik, yaitu :[5]
a.     Manajemen konflik destruktif
Adalah bentuk penanganan konflik dengan menggunakan acaman, paksaan, atau kekerasan. Adanya usaha ekspansi yang meninggi di atas isu awalnya atau bisa dikatakan individu cenderung menyalahkan.
Dalam konflik destruktif, pihak-pihak yang terlibat konflik tidak fleksibel atau kaku, karena tujuan konflik di definisikan secara sempit yaitu untuk mengalahkan satu sama lain. Interaksi konflik berlarut-larut,siklus konflik tidak terkontrol karena menghindari isu konflik yang sesungguhnya. Interaksi pihak-pihak yang terlibat konflik membentuk spiral yang panjang yang makin lama makin menjauhkan jarak pihak-pihak yang terlibat konflik. Pihak-pihak yang terlibat konflik menggunakan teknik manajemen konflik kompetisi, ancaman, konfrontasi, kekuatan, agresi, dan sedikit sekali menggunakan negoisasi untuk menciptakan win&win solution. Konflik jenis ini merusak kehidupan dan menurunkan kesehatan organisasi. Konflik destruktif sulit diselesaikan karena pihak-pihak yang terlibat konflik berupaya saling menyelamatkan muka mereka. Upaya menyelamatkan muka membuat konflik berlangsung lama,menghabiskan sumber-sumber pribadi dan organisasi,serta menurunkan produktivitas pribadi dan organisasi

b.     Manajemen konflik konstruktif
Merupakan bentuk penanganan konflik yang cenderung melakukan negosiasi sehingga terjadi satu tawar menawar yang menguntungkan serta tetap mempertahankan interaksi sosialnya. Selain itu dapat pula menggunakan bentuk lain yang disebut reasoning yaitu sudah dapat berpikir secara logis dalam penyelesaian masalah.
Konflik konstruktif merupakan konflik yang prosesnya mengarah kepada mencari solusi mengenai substansi konflik. Konflik jenis ini membangun sesuatu yang baru atau mempererat hubungan pihak-pihak yang terlibat konflik .
Interaksi pihak-pihak yang terlibat konflik merupakan interaksi membangun dan makin mendekatkan jarak interaksi sosial diantara mereka dan membantu pihak-pihak yang terlibat konflik untuk mencapai objek mereka. Disamping itu konflik jenis ini memungkinkan interaksi konflik yang keras kembali normal dan sehat . akhir dari konflik konstruktif antara lain yaitu win&win solution,solusi kolaborasi atau kompromi,serta meningkatkan perkembangan dan kesehatan organisasi.

3.     Teori konflik
Perkembangan bidang ilmu konflik dan aplikasinya dalam penyelesaian konflik menciptakan beragam teori mengenai konflik . teori-teori tersebut memandang konflik dari berbagai perspektif dengan asumsi yang berbeda. Disamping itu aspek konflik yang menjadi objek teori juga beragam. Sebagai contoh, ada teori mengenai proses terjadinya konflik, ada teori mengenai gaya manajemen konflik serta ada teori mengenai strategi dan taktik konflik.
Teori-teori mengenai konflik membantu para ilmuan dan praktisi konflik untuk memperoleh penjelasan mengenai mengapa konflik terjadi,apa penyebab konflik dan bagaimana proses terjadinya suatu konflik. Setiap teori menjelasan kekuatan internal dan eksternal yang mendorong bagaimana orang bersikap dan berperilaku secara tertentu dalam menghadapi konflik.
a.     Teori dialektika hegel
Georg Wilhelm Friedrich Hegel 1770-1831) seorang filsufidealis jerman mengemukakan teori dealektika. Menurut Hegel : setiap gerakan proses atau kemajuan merupakan hasil konfli dengan proses tertentu. Proses konflik tersebut adalah bertentangan antara tesis,antitasis,dan sintesis.[6] Tesis merupakan suatu ide atau gerakan historis. Ide atau gerakan berisi ketidak sempurnaan yang akan menimbulkan oposisi atau antitesis. Sebagai hasil konflik keduanya, muncullah pendapat yang ketiga yaitu antitesis. Sintesis akan menjadi suatu tesis baru yang akan menimbulkan antitesis baru dan kemudian menghasilkan sintesis baru dan seterusnya.
proses dialektika tersebut akan berlangsung hingga terciptanya ide absolut yaitu sintesis akhir yang sangat sempurna dan tidak menimbulkan antitesis baru.
b.     Teori satya graha
Mohandar Karachad (Mahatma) Gandhi adalah pemimpin perjuangan kemerdekaan india dalam melawan pemerintah penjajahan inggris. Beliau mengemukakan konsep konflik perlawanan tanpa kekerasan yang terkenal dengan nama Satya Graha.
Satya graha berasal dari kata bahasa sansekerta : satya artinya kebenaran dan agraha artinya teguh. Jadi dapat disimpulkan bahwa Konsep satya graha berarti teguh terhadap kebenaran dan menolak semua yang tidak benar. Atau juga bisa diartikan dengan mempertahankan kebenaran, tidak dengan memberikan penderitaan kepada lawan, tapi kepada diri sendiri.[7]
Langkah-langkah dalam menggunakan teori satya graha ini yaitu dengan menggunakan strategi dan taktik konflik yaitu :
1.     Strategi langkah bijak : yaitu dengan menggunakan negoisasi dan arbitrase. Yang meliputi
-        pengumpulan dan analisis fakta di tempat konflik dengan partisipasi lawan konflik
-        mengidentifikasi minat yang sama dengan lawan konflik
-        formulasi tindakan dan diskusi yang diterima lawan konflik
-        upaya untuk kompromi tetapi tidak mengalah pada suatu hal yang esensial.
2.     Taktik konflik :
apabila dengan langkah langkah sebelumnya konflik tidak dapat diselesaikan ,maka menggunakan langkah selanjutnya yaitu dengan melaksanakan tindakan langsung seperti : agitasi,ultimatum, pemboikotan ekonomi, pemogokan, non koperasi, pembangkangan sipil, perampasan fungsi-fungsi pemerintahan, dan penciptaan pemerintahan paralel.[8]
Jika salah satu dari tindakan tersebut dapat menyelesaikan konflik, tindakan berikutnya tidak diperlukan .
Strategi satya graha juga bisa diterapkan untuk setiap jenis konflik. Akan tetapi taktik yang digunakan tidak bisa digeneralisasi untuk semua jenis konflik dengan melalui suatu trobosan taktik yang sesuai dengan situasi konflik yang ada.
c.      Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika banyak digunakan untuk menjelaskan latar belakang dan proses terjadinya konflik. Sigmeun freud dan para pengikutnya mengemukakan teori psikodinamika yang menjelaskan bagaimana keadaan interpersonal dan aktifitas mental bisa menimbulkan perilaku dalam konteks sosial (Joseph P.Folger & Marshall S. Poole,1984) .[9]
Pemikiran teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan bagaimana konflik dapat terjadi. Teori ini disusun berdasarkan asumsi bahwa : motivasi manusia seperti mesin hidraulis. Pikiran manusia merupakan sumber energi jiwa yang berhubungan dengan berbagai aktivitas, mulai dari aktivitas positif sampai aktivitas negatif yang merusak.
Terdapat tiga komponen model dasar teori psikodinamika,diantaranya yaitu :
a.      Ide : merupakan resevoir energi instingtif yang berisi dorongan biologis. Ide-ide tidak disadari dan peroperasi berdasarkan prinsip kesenangan, dorongan untuk mencapai kesenangan dan menghindari kesakitan. Karakteristik ide adalah proses berpikir primer yang tidak logis, irasional, dan termotifasi oleh suatu keinginan untuk segera mendapatkan gratifikasi  dari suatu impuls.
b.     Ego :  merupakan komponen yang memanajemeni konflik antara ide dan hambatan-hambatan dunia yang sesungguhnya. Ego beroperasi berdasarkan prinsip realitas. Karakterisasi ego adalah proses berfikir skunder yang logis dan rasional. Peran ego adalah untuk mencegah ide dari memberikan gratifikasi impuls dengan cara yang tidak tepat
c.      Superego : merupakan sistem nilai atau komponen kepribadian. Superego berisi standar moral yang dipelajari dari orang tua dan masyarakat. Superego memaksa ego untuk menyesuaikan diri tidak hanya pada realitas, tetapi juga pada moralitas yang ideal. Dari sini superego menyebabkan orang merasa bersalah jika mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan masyarakat.

d.     Teori pertukaran sosial
Teori pertukaran sosial digunakan oleh para peneliti untuk menganalisis dan menjelaskan proses terjadinya konflik. Teori ini disusun berdasarkan asemsi :
1.     Perilaku manusia dalam interaksi sosial merupakan aktivitas pertukaran antara imbalan dan biaya. Pertukaran tersebut meliputi pertukaran yang kelihatan dan pertukaran yang tidak kelihatan. Pertukaran kelihatan itu seperti pertukaran barang dan jasa. Sedangkan pertukaran yang tidak kelihatan itu seperti pertukaran cinta antara dua sejoli. Pertukaran dalam interaksi sosial berhubungan dengan pertukaran manfaat, yaitu memberikan sesuatu yang bernilai dan terjadi timbal balik.
Pertukaran timbal balik terjadi karena adanya saling ketergantungan dan konflik terjadi karena adanya pihak yang terlibat konflik saling tergantung dan saling menguntungkan secara timbal balik.
2.     Seseorang berperilaku didorong dan diarahkan oleh ketertarikan pribadi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Dalam suatu pertukaran, orang mencari nilai lebih atau nilai tambah dari pertukaran tersebut, dalam interaksi sosial, ada orang yang berupaya memaksimalkan manfaat pribadi tanpa memikirkan kerugian orang lain.
Jika hubungan interaksi sosial dilakukan dengan saling merugikan,interaksi tersebut tidak akan lama. Pihak yang merasa dirugikan dalam interaksi akan menghentikan interaksi sosial dan situasi tersebut mencerminkan terjadinya suatu konflik.
3.     Dalam suatu interaksi sosial ada beberapa hal yang menimbulkan konflik yaitu : keadilan, kewajaran, persamaan hak, dan kekuasaan.[10]
Keadilan, menurut Boris Kabanoff 1991, keadilan itu ada dua yaitu keadilan distributif yaitu dimana keadilan yang didapatkan berdasarkan distribusinya. Dan yang kedua yaitu keadilan prosedural, keadilan yang berdasarkan proses yang dilakukannya.
Kewajaran, dalam suatu hubungan kerjasama produktifitas ekonomi merupaka tujuan utama, kewajaran merupakan prinsip utama daripada persamaan hak dalam keadilan distributif. Apabila persamaan hak diterapkan maka produktifitas tidak bisa berjalan dengan baik,dan bisa menimbulkan konflik.
Persamaan hak, apabila tujuan interaksi sosial untuk mengembangkan atau mempertahankan kekohesifan hubungan sosial yang menyenangkan, maka persamaan hak merupkan prinsip dominan dalam hubungan sosial. Persamaan hak artinya setiap orang yang berinteraksi sosial mempunyai nilai yang sama dan menciptakan kondisi optimal untuk memelihara harga diri, ketiadaan persamaan hak akan meniadakan kekohesifan hubungan sosial yang akan mengarah timbuknya suatu konflik.
Kekuasaan, dalam suatu interaksi sosial, kekuasaan merupakan hasil ketergantungan diantara dua pihak yang berinteraksi. Konflik tidak akan terjadi jika setiap orang dalam interaksi sosial mengakui dan menghargai kekuasaan yang dimiliki sseorang secara sah. Konflik umumnya terjadi jika setiap orang dalam suatu interaksi sosial berupaya menambah kekuasaannya dengan cara tidak mengakui kekuasaan orang lain atau merendahkan nilai kekuasaan orang lain.


e.     Terori permainan
Teori lainnya yang banyak digunakan dalam memahami proses konflik adalah teori permainan yang sering juga disebut dengan sains strategi.[11]
Menurut teori ini, konflik sama halnya dengan permainan, dimana ada dua pihak atau lebih yang bermain menggunakan strategi dan taktik bermain untuk mengalahkan lawan bermainnya. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh matematesian dari universitas princeton.
Permainan juga sering dikelompokkan menjadi permainan kompetitif dan permainan kooperatif, dalam permaina kompetitif salah satu pihak harus menang dan pihak lain harus kalah,sedangkan dalam permainan kooperatif para pihak atau para pemain dapat menghasilkan nilai yang sama atau nilai yang berbeda.
Menurut Joseph P. Folger & Marshal S. Poole (1984).. teori permainan didasarkan pada empat asumsi :
1.     Struktu permainan dibentuk oleh pilihan atau opsi yang tersedia untuk para pemain dan imbalan-imbalan yang mereka terima dari memilih suatu pilihan tertentu.
2.     Pilihan yang tersedia untuk para pemain jumlahnya terbatas dan para pemain mengetahui pilihan tersebut.
3.     Hasil yang berhubungan dengan gerakan tertentu tergantung pada pilihan pemain dan lawan main
4.     Para pemain mengetahui hasil yang berhubungan dengan setiap kombinasi pilihan dan hasil yang menarik, setra mempunyai makna bagi mereka
5.     Pilihan seorang pemain ditentukan oleh perhitungan hasil. Perilaku permainan rasional terdiri dari seleksi terhadap pilihan-pilihan yang menghasilkan keluaran yang menyenangkan, baik perolehan maksimum atau pencapaian suatu norma yang bermanfaat seperti kedilan distributif.

f.      Teori fase
Teori fase konflik merupakan teori yang bisa digunakan untuk memahami proses terjadinya konflik. Teori ini sudah disusun berdasarkan asumsi bahwa proses terjadinya konflik melalui fase-fase dengan pola tertentu dan dalam kurun waktu tertentu.
      Donald Rothchild dan chandra lekha sriram mengemukakan konflik antar kelompok dalam empat fase [12]
1.     Fase potensi konflik : dalam fase ini konflik telah terjadi,tetapi dalam level intensitas sangat rendah. Faktor struktural dan penyebab konflik memicu perbedaan diatara kelompok disamping perbedaan sosio-ekonomi, kultur dan politik. Tindakan preventif dari fase ini tidak beresiko dan mempunyai potensi untuk berhasil.
2.     Fase pertumbuhan : dalam fase ini, isu yang dipertentangkan dan kelompok-kelompok lebih didefinisikan.ikatan dan hubungan antarelit masih terjadi dan isu yang dipertentangkan masih bisa dirundingkan, biaya tindakan preventif meningkat tetapi kemungkinan berhasil masih posituf.
3.     Fase pemicu dan eskalasi.
Persepsi perubahan yang nyata dalam kelompok kondisi ekonomi, sosial, politik bisa memicu eskalasi. Permulaan kekerasan masal merupakan ambang fundamental konflik. Ikatan antarelit putus, interaksi sosial memfokuskan pada kekerasan yang terorganisasi ketika pertukaran meredup. Kekerasan meningkat, kelompok yang bertikai kehilangan kepercayaan satu sama lain dan merasa tidak dapat berkompromi. Kekerasan dapat membuat intervensi akan beresiko mahal. Pada fase ini tindakan ntuk mencegah kekerasan agar tidak bereskalasi ke kelompok lain masih mungkin untuk dilakukan.
4.     Fase pascakonflik. Sesudah de-eskalasi kekerasan menurun,intervensi preventif dengan tujuan membangun kembali hubungan damai dan saluran komunikasi antar kelompok yang terlibat konflik untuk menghindari terulangnya kekerasan. Menurut Rothchild dan sriram, fase ini terdiri dari dua bagian terpisah
Fase pengembangan militer /keamanan jangka pendek :dengan meningkatkan kepercayaan terhadap perdamaian seperti dengan proses pelucutan senjata
Fase pengembangan institusi jangka panjang  : untuk membantu membangun kembali hubungan antar kelompok dengan rekonstruksi sosial, politik, dan ekonomi. Pembangunan institusi dan demokratisasi harus meletakkan fondasi perdamaian berkelanjutan.
g.     Teori ruang
Awal teori ruang adalah teori lewin mengenai iklim organisasi pada tahun 1951. Lewin melukiskan prilaku manusia sebagai gerakan melalui suatu ruang kehiduan dibawah pengaruh berbagai kekuatan yang berada dalam ruang. Ruang kehidupan terdiri atas konsepsi orang mengenai tujuan penting yang akan dicapai, hambatan dan persyaratan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Morton Deutsch murid dari Lewin menyatakan bahwa proses resolusi konflik yang terjadi sangat dipengaruhi oleh konteks dimana konflik terjadi. Ia berpendapat bahwa wajah kontekstual kritis dari situasi konflik, yang akan membedakan antara resolusi kooperatif dan resolusi yang berkopetensi menghasilkan kompetisi destruktif adalah tipe interdependensi yang terbentuk diantara pihak-pihak yang terlibat konflik.[13]
Interdependensi tidak didefinisikan secara objektif tetapi didefinisikan oleh persepsi dan kepercayaan dari pihak-pihak yang terlibat konflik, jika mereka mempersepsikan situasi sebagai promotif, mereka akan bertindak sebagai promotif. Jika mereka mempersepsikan situasi sebagai kompetisi, mereka akan bertindak untuk berkompetisi. Persepsi interdependensi promotif cenderung untuk mempromosikan interaksi kooperatif. Disisi lain persepsi interdependensi kompetitif cenderung untuk menghasilkan prilaku kompetisi.
Deutsch juga mengemukakan bahwa konsekuensi interaksi lainnya dibawa interdependensi promotif dan kompetitif.
Dibawah interdependensi promotif yang menciptakan iklim kerja sama, pihak-pihak yang terlibat konflik akan menekankan pada
-        ketertarikan bersama dan pembagian kerja yang terkoordinasi
-        menciptakan sikap saling percaya dan bersahabat
-        mempersepsikan persamaan dalam kepercayaan dan tujuan
-        berkomunikasi lebih terbuka dan lebih jujur
Dibawah interdependensi kompetitif yang menciptakan iklim kompetitif, pihak yang terlibat konflik akan memfokuskan pada
-        ketertarikan yang antagonistik dan saling menghambat satu sama lain
-        memperlihatkan sikap curiga dan kekerasan
-        menekankan pada perbedaan
-        serta berkomunikasi dengan cara yang menyesatkan dan menahan diri.
h.     Teori sistem organisasi
Konflik dan manajemen konflik dapat dianalisis dari sudut pandang teori sistem dalam organisasi. Konflik ekonomi, politik, sosial dan sebagainya terjadi dalam konteks sistem organisasi.
Menurut von Bertalanffy suatu organisasi merupakan suatu sistem yang terintegrasi melalui struktur-struktur dan fungsi-fungsi yang saling memiliki ketergantungan. Suatu organisme terjadi dari suatu molekul-molekul yang harus bekerja sama secara harmonis. Setiap molekul harus mengetahui apa yang dilakukan oleh molekul-molekul lainnya. Masing-masing harus mampu menerima dan disiplin untuk mematuhinya.
Menurut von Bertalanffy 1968 : teori sistem merupaka sains mengenai keseluruhan. Untuk memahami sesuatu kita harus memahami keseluruhan dari sesuatu tersebut. Hal ini bertentangan dengan para saintis tradisional yang menggunakan pendekatan reduksionis, yang mengemukakan bahwa untuk memeahami sesuatu harus memecah sesuatu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.[14] Dengan memahami hal-hal yang lebih kecil tersebut, hal yang dilakukan dan prilaku keseluruhan bisa diprediksi. Hal ini bertentangan dengan teori sistem dari Von Bertalanffy yang memulai memahami sistem secara keseluruhan kemudian memahami kontribusi subsiste-subsistem terhada sistem.
Dengan teori siten dari von Bertalanffy tersebut pola analisis sistem mempergunakan sejumlah asumsi yaitu :
1.     Pola pikir kesatuan
2.     Subsistem
3.     Saling tergantung
4.     Ikatan sinergi
5.     Garis batas sistem
6.     Tujuan sistem
7.     Budaya organisasi
8.     kepemimpinan

i.       Teori negoisasi muka
Teori negosiasi muka dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey (1985 dan terakhir kali disempurnakan pada tahun 2005). Teori ini berdasarkan asumsi bahwa akar konflik adalah berdasarkan manajemen identitas pada level individual dan level budaya. Berbagai fakta identitas individual dan budaya dilukiskan dalam bentuk berbagai muka .[15]
Muka adalah citra publik dari individu atau kelompok yang masyarakatnya melihat dan dievaluasi berdasarkan norma dan nilai-nilai masyarakat. Konflik terjadi jika muka kelompok atau individu terancam.
Menurut teori ini, konflik akan terjadi terkait dengan isu tiga tujuan, yaitu isi, hubungan, dan identitas budaya. Konflik mengenai isu isi tujuan merupakan isu eksternal yang dipegang teguh oleh individual dengan nilai tinggi. Konflik mengenai isu hubungan tujuan terkait dengan bagaimana para individu mendefinisikan hubungan mereka satu sama lain dalam situasi konflik. Konflik mengenai identitas tujuan berkaitan dengan isu konfirmasi identitas, penghargaan dan persetujuan dari para anggota yang terlibat konflik. Tujuan ini mempunyai hubungan yang sangat dalam dengan budaya dan sangat berhubungan langsung dengan isu untuk menyelamatkan muka.
Muka merupakan citra publik individu atau kelompok yang dievaluasi oleh budaya mereka sendiri berdasarkan norma, nilai-nilai dan kepercayaan. Hal tersebut merupakan pertimbangan utama dalam manajemen konflik. Jika muka seseorang terancam, secara efektif akan menimbulkan sejumlah derajat respons emosional. Pada level kognitif, ancaman muka diukur berdasarkan derajat seberapa jauh tindaknya menyimpang dari norma-norma prilaku. Derajat penyimpangan dari perilaku normatif akan menimbulkan perilaku kerja muka. Kerja muka menunjukkan keterampilan komunikasi yang dipakai oleh seseorang untuk menegakkan dan memanajemeni muka.[16]
Teori negosiasi muka disusun berdasarkan asumsi dan peraturan sebagai berikut :
a.      Komunikasi dalam suatu budaya adalah berdasarkan mempertahankan dan menegoisasikan muka.
b.     Muka menjadi suatu masalah jika identitasnya dipertanyakan
c.      Perbedaan budaya individualistik dengan kolektivistik serta jarak kekuasaan kecil dan besar akan sangat membentuk manajemen muka.
d.     Budaya individualistik lebih menyukai kerangka berorientasi pada diri sendiri, sedangkan budaya kolektivistik lebih menyukai kerangka orang lain.
e.      Budaya jarak kekuasaan kecil lebih menyukai suatu kepercayaan, setiap individu adalah sama, sedangkan budaya jarak kekuasaan besar lebih menyukai kerangka hierarki.
f.      Perilaku juga dipengaruhi oleh varian kultural, hubungan individual, dan faktor-faktor situasional.
g.     Kompetensi dalam komunikasi interkultural merupakan kulminasi ilmu pengetahuan dan kesadaran.

4.     contoh berbagai ragam peristiwa konflik dan solusinya
a.      Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena harus bekerja. Berdasarkan data survei anak usia 10-17 tahun yang bekerja, seperti dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2006, tercatat sebanyak 2,8 juta anak telah menjadi pekerja.
Dari hasil studi tentang pekerja anak yang dilakukan PGRI dengan ILO-East tahun 2008 di Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat, ditemukan bahwa anak-anak usia 9-15 tahun terlibat dengan berbagai jenis pekerjaan yang berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental-emosional, dan seksual.
Awalnya mereka membantu orangtua, tetapi kemudian terjebak menjadi pekerja permanen. Mereka sering bolos sekolah dan akhirnya putus sekolah. Karena itubagi anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja belum cukup. Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya pendidikan.[17]
Solusi dalam menyikapi konflik diatas:
Sudah bukan hal baru lagi ketika kita mendengar kemiskinan menjadi suatu polemik yang selalu menghantui masyarakat ekonomi kelas bawah. Pendidikan yang seharusnya dikenyam seluruh lapisan masyarakat, khususnya di usia anak-anak, harus terbengkalai tak terurus begitu saja dikarenakan himpitan ekonomi yang menyelimutinya. Seperti uraian permasalahan tercantum diatas, tak seharusnya pula kita berhenti untuk berfikir bagaimana agar sekiranya konflik semacam itu dapat dihindari atau paling tidak dapat diminimalisir seoptimal mungkin.
Seorang anak seolah merasa terpaksa membantu orangtuanya dengan bekerja turut mencari penghasilan tambahan, namun karena desakan berbagai faktor, seperti waktu, rasa lelah seusai bekerja, tidak terfokusnya pikiran, ataupun hubungan sosial dengan temannya, jelas secara perlahan hal tersebut akan menyebabkan si anak mengeluarkan keputusan untuk berhenti sekolah. Sangat disayangkan memang, ibarat melakukan pengorbanan untuk dapat meraih sepeser uang dengan cara membayarnya dengan pendidikan, yang notabene nilai pendidikan ialah jelas jauh punya nilai guna dikemudian hari kelak. Bahkan cukup ironi jika ada orangtua dari keluarga ekonomi kurang mampu yang sampai beranggapan bahwa bersekolah dikatakan hanya akan menambah pengeluaran dari pengahasilan yang telah didapatnya.
Pemerintah pun sebagai wahana dalam memberikan pelayanan dirasa belum efektif dalam mengayomi masyarakatnya. Program-program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah dasar sampai sekolah menengah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ataupun Dana program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM untuk pendidikan faktanya belum cukup untuk mensiasati permasalah ini. Karena permasalahan akan sekolah tidak bisa berhenti hanya dengan pembayaran iuran SPP saja, tapi juga perlu diperhatikan permasalahan lain yang cukup berpengaruh terhadap sisi psikologis anak misalnya masalah pembelian buku pelajaran, biaya transportasi, biaya seragam sekolah dan juga tak ketinggalan status sosial anak dimata anak-anak yang mungkin lebih mampu yang disinyalir sebagai penyebab munculnya rasa malas dating ke sekolah yang ujungnya ialah berhenti bersekolah.
Kini menjadi tugas urgen bagi Pemerintah maupun orangtua untuk sekiranya dapat berfikir mengeluarkan inisiatif demi mengatasi konflik semacam ini, orangtua sebagai orang terdekat dengan anak sudah seharusnya berfikir jernih untuk dapat memberikan pengarahan yang lebih tepat bagi anak-anaknya, orangtua harus menyadari bahwa si anak haruslah diberikan haknya untuk memperoleh pendidikan, memberikan pengarahan agar anak meyakini bahwa pendidikan merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan dan orangtua pun, khususnya ayah, harus menyadari bahwa menafkahkan keluarga itu sudah merupakan kewajibannya.
Berbicara seorang ayah atau orangtua yang menganggur, dalam hal ini jelas perlu adanya turun tangan pemerintah untuk memberikan perhatian penuh akan problem ini. Pemerintah haruslah secara intensif dan gencar-gencarnya untuk terus memberikan penyuluhan pengajaran keterampilan bagi masyarakat pengangguran, untuk kemudian memberikan modal yang sepantasnya demi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat tak mampu. Sehingga jika memang orangtua sudah merasa cukup dengan ekonominya, sudah barang tentu si anak akan di sekolahkan sesuai tuntutan yang berlaku.
Bagitu pula halnya, dengan sikap golongan-golongan masyarakat ekonomi sangat mampu, sungguh sangat diharapkan timbulnya rasa humanisme atau kepedulian sosial terhadap masyarakat miskin yang ada. Jujur saja sangatlah lucu ketika jurang antara si Kaya dan si Miskin masih sangat curam, disatu sisi si Miskin yang untuk mengenyam pendidikan dasarpun harus terhalang karena himpitan ekonomi, sedangkan di sisi lain sebagian oknum dari pihak si Kaya masih seolah tidak melihat masyarakat kelas bawah yang ada dihadapnnya. Lebih lanjut, memang perlu adanya kesadaran terhadap pribadi-pribadi jiwa manusia untuk menumbuhkan rasa keadilan. Dalam hal kehidupan beragama, Islam pun sebenarnya sangat menekankan pengaturan distribusi ekonomi yang adil agar ketimpangan di dalam masyarakat dapat dihilangkan. Firman Allah SWT, “supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr : 7). Selebihnya peran pemerintah sebagai saran atau mediator dalam mengkoordinir masyarakatnya sangatlah dibutuhkan agar sistem yang seharusnya dijalankan tidak terdiam hanya terpaku seolah tak ada jalan keluar terhadap permasalahan yang melanda warganya. Dan kita sebagai individu manusia sekiranya turut juga berperan agar bisa lebih berkontribusi terhadap masyarakat kelas bawah agar dapat hidup bersama berdampingan tanpa melupakan hak yang sudah sepantasnya mereka peroleh.
b.     JAKARTA, SENIN — Terhambatnya pembangunan di daerah-daerah perbatasan antara lain merupakan buntut dari persoalan konflik internal di daerah tersebut. Akibatnya, pembangunan perbatasan masih belum bisa mengupayakan kesejahteraan rakyatnya.
Hal tersebut dikatakan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie di sela-sela seminar "Masalah Pembangunan di Perbatasan: Upaya Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat" di LIPI Jakarta, Senin (16/2). "Level paradigma penanganan persoalan konflik di perbatasan harus diganti dengan pembangunan kesejahteraan wilayahnya," ungkap Umar.
Menurutnya, banyaknya warga miskin di daerah tertinggal menjadi masalah yang ironi. Sebab, ketertinggalan itu justru memicu persoalan lain, seperti masalah sosial, keamanan, serta masalah kebangsaan.
Selain itu, lemahnya koordinasi antarinstansi termasuk penyaluran modal masih belum jernih sehingga penundaan lebih kerap terjadi. "Ditambah lagi permasalahan warisan yang ditinggalkan penjajahan yang mengakibatkan kemiskinan yang berlarut-larut," tambah Umar.
Perlu penanganan multi disiplin dan kerja sama berbagai pemangku kepentingan, dalam upaya pembangunan daerah tertinggal. Pemerintah dalam satu sisi berfungsi sebagai promotor serta memberi stimulus fiskal, papar Umar. Sedangkan lembaga lainnya bisa masuk dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, dan masalah upaya pembangunan sumber daya manusia.[18]
Analisis dan solusi:
Berdasarkan artikel yang diambil di harian kompas online diatas dapat dianalisis terjadi konflik internal karena terhambatnya pembangunan di daerah-daerah perbatasan yang mengakibatkan pembangunan perbatasan masih belum bias mengupayakan kesejahteraan rakyatnya.
Konflik ini dapat terjadi karena lemahnya koordinasi antarinstansi termasuk penyaluran modal masih belum jernih yang mengakibatkan terjadi penundaan dan terhambatnya pembangunan di daerah-daerah perbatasan. Konflik seperti ini harus cepat diatasi jika dilihat menurut “kacamata” etika bisnis, karena kasus konflik ini merugikan banyak pihak. Khususnya pihak masyarakat sekitar Comoro, Subdistrik Comoro, Dili, Timor Leste.
Menurut saya, solusi untuk kasus konflik seperti ini sebaiknya menggunakan metode Arbitrasi, yaitu adanya peran orang ketiga sebagai penengah untuk penyelesaian masalah konflik ini. Peran orang ketiga dalam hal ini bisa berupa lembaga atau instansi lain dari pemerintah yang bertugas untuk mengawasi koordinasi antarinstantsi agar menjadi semakin lebih kuat koordinasinya. Dan mengawasi penyaluran modal agar lebih jernih dan transparan sehingga tidak sering terjadi penundaan yang diakibatkan oleh penyaluran modal.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Manajemen konflik : sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.
Aspek-aspek yang terkait dengan manajemen konflik
a.      Manajemen konflik destruktif
b.     Manajemen konflik konstruktif
Teori konflik
a.      Teori dialektika hegel
b.     Teori satya graha
c.      Teori Psikodinamika
d.     Teori pertukaran sosial
e.      Teori permainan
f.      Teori fase
g.     Teori ruang
h.     Teori sistem organisasi
i.       Teori negoisasi muka











Daftar pustaka

Wirawan,konflik dan manajemen konflik teori, aplikasi, dan penelitian. jakarta : selemba humanika,2009
Hendrik william,bagaimana mengelola konflik petunjuk praktis untuk manajemen konflik yang efektif.jakarta : PT.bumi aksara,2001
Drs.H.Ahmad Thontowi,manajemen konflik




[1]Drs.H.Ahmad Thontowi,manajemen konflik
[2] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.5
[3] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.6
[4] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.131
[5] Drs.H.Ahmad Thontowi,manajemen konflik
[6] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.16
[7] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.18
[8] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.19
[9] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.29
[10] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.33
[11] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.35
[12] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.38
[13] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.40
[14] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.42
[15] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.48
[16] Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar