BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konflik merupakan salah satu esensi dari kehidupan dan perkembangan
manusia yang mempunyai karakteristik yang beragama. Manusia mempunyai perbedaan
jenis kelamin, strata sosial dan ekonomi, sistem hukum, bangsa, suku, agama,
kepercayaan, aliran, politik, serta budaya dan tujuan hidupnya. Dalam sejarah
umat manusia inilah yang selalu menimbulkan konflik. Selama masih ada perbedaan
tersebut konflik tidak dapat dihindaridan selalu akan terjadi. Dari sini ada
benarnya jika sejarah umat manusia merupakan sejarah konflik.
Konflik selalu terjadi di dunia, dalam sistem sosial yang bernama
negara, bangsa, organisasi, perusahaan dan bahkan dalam sistem sosial terkecil
yang bernama keluarga dan pertemanan. Konflik terjadi di masa lalu, sekarang
dan pasti akan terjadi di masa depan. Dengan demikian manusia selalu dihadapkan
pada konflik selama hidupnya, untuk itu kita harus memahami apa itu konflik dan
bagaimana langkah-langkah agar dapat terbebas dari konflik tersebut
B. Rumusan masalah
Disusunnya makalah ini tentu saja bukan tanpa alasan yang jelas, diantara
alasan-alasan yang melatarbelakangi disusunnya makalah ini adalah karena adanya
pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penyusun, yang penyusun sebut sebagai rumusan masalah.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi manajemen konflik?
2. Aspek-aspek apa saja yang terkait dengan manajemen konflik ?
3. Apa saja teori konflik itu dan sebutkan beberapa contoh peristiwa konflik
dan solusinya?
C. Tujuan
Sebagaimana yang ada di dalam rumusan masalah yang memuat beberapa
pertanyaan mengenai materi yang dibahas dalam makalah ini, maka disinipun tidak
akan jauh berbeda dengan tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu adalah untuk
memahami hal-hal berikut, diantaranya:
1. Memahami definisi manajemen konflik
2. Mengetahui aspek-aspek yang berhubungan dengan manajemen konflik
3. Mengetahui teori konflik, contoh peristiwa konflik serta solusinya.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi Manajemen Konflik
A.
Manajemen
Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia Maneggiare (Haney dalam Mardianto, 2000) yang berarti melatih
kuda-kuda atau secara harfiah to handle yang berarti mengendalikan,
sedangkan dalam kamus Inggris Indonesia (Echols dan Shadily, 2000) management berarti pengelolaan dan istilah manager
berarti tindakan membimbing atau memimpin, sedangkan dalam bahasa Cina,
manajemen adalah kuan lee yang
berasal dari dua kata yaitu kuan khung
(mengawasi orang kerja) dan lee
chai (menmanajemen konfliksi uang)
(Mardianto, 2000).[1]
Sehingga manajemem dapat didefinisikan sebagai mengawasi/mengatur
orang bekerja dan menmanajemen konfliksi administrasi dengan baik. Menurut
kamus besar bahasa Indonesia (1997)
manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk
mencapai Spiritual tujuan. Manajemen merupakan proses penting yang menggerakkan
organisasi karena tanpa manajemen yang efektif tidak akan ada usaha yang
berhasil cukup lama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
manajemen sebuah tindakan yang berhubungan dengan usaha tertentu dan penggunaan
sumber daya secara efektif untuk mencapai Spiritual tujuan.
B.
Konflik
Sejumlah pakar berpendapat bahwa konflik merupakan elemen penting
dari kepemimpinan dan manajemen.
Robert R.blake dan Anne A. McCanse (1991) berpendapat bahwa :
elemen
kepemimpinan adalah :
-
penyelesaian
(conflict solving),
-
inisiatif
(initiative),
-
penyelidikan
(inquiry),
-
advokasi/pembelaan
(advocacy),
-
pengambilan
keputusan ( decision making),
-
kritik
(critique)
mereka memberikan perhatian besar terhadap konflik dan manajemen
konflik dalam teori kepemimpinan mereka. Gaya kepememimpinan para pemimpin dan
manajer misalnya,ditentukan oleh asumsi mereka mengenai konflik. Dari sini
teori yang mereka jelaskan mengemukakan pentingnya para pemimpin dan manajer menguasai teori dan keterampilan
mengenai konflik dan manajemen konflik.
Istilah konflik berasal dari kata kerja bahasa latin configere yang
berarti saling memukul. Dari bahasa latin diadopsi ke bahasa inggris,conflict
yang kemudian diadopsi kedalam bahasa indonesia .
Definisi
konflik menurut para pakar[2]
|
Menurut
|
Definisi
konflik
|
|
Joce
L.hocker & william W.wilmot
|
“An
expressed struggle between at least two interdependent parties who perceived
incompatible goal,scarce rewards,and interference from other party in
achieving their goals.”
|
|
Joel
A.digirolamo
|
“A
process that begins when an individual or group perceives differences and
opposition between itself and another individual or group about interests and
resources,beliefs,values,or practices that matter to them.”
|
|
Stephen
P.robbins (1990)
|
“We
define conflict as a process in which an efford is purposely made by A to
offset the efforts of B in attaining his goals or furthering his interests.”
|
|
Gareth
R.jones (1995)
|
“Organizational
conflict is the clash that occurs when the goal-directed behavior of one
droup blocks or thwarts the goals of another.”
|
|
Daniel
dana (2001)
|
“Workplace
conflict : a condition between or among workers whose jobs are
interdependent, whose feel angry, who perceive the other (s) as being at
fault, and who act in a way ways that cause a business problem.”
|
|
Wikipedia
|
“Conflict
is a state of discord caused by the actual or perbeived opposition of
needs,values and interest.”
|
|
J.
frost & W.wilmot (1978)
|
“Conflict
is the interaction of interdependent people who perceive incompatible goals
and interference from each other in achieving those goals.”
|
|
Kirk
blackard & James W.gibson (2003)
|
“Workplace
conflict is a dynamic process reflecting the interaction of two or more
interde who have pendent parties same level of difference or incompatibility
between them.”
|
Definisi yang dikemukakan para pakar tersebut tampak
berbeda,meskipun intinya sama, karena mereka mendefinisikan konflik dari
prespektif yang berbeda, ada yang mendefinisikan dari prespektif
psikologi,sains prilaku,sosial,komunikasi,antropologi dan ilmu sosial.
Konflik adalah proses pertentangan yang diekspresikan diantara dua
pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik,menggunakan pola
prilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik.
Dari definisi tersebut dapat diartikan sebagai berikut :
a.
Proses
: konflik terjadi melalui suatu proses yang unik,artinya proses terjadinya
suatu konflik berbeda dengan konflik lainnya.
Seperti dalam tabel berikut :[3]
|
Masukan
|
Proses
|
Keluaran
|
|
a.
pihak yang
terlibat konflik (pemimpin,pengikut,pihak luar,dan sistem sosial) berbeda :
-
idiologi dan
pola pikir
-
tujuan dan
cara mencapai tujuan
-
sifat pribadi
-
latar
belakang : pendidikan,agama,pengalaman dan lain-lain
-
pola perilaku
-
visi,misi dan
strategi sistem sosial
b.
interdependensi
pihak-piha yang terlibat onflik
c.
kekuasaan
d.
gaya
manajemen konflik
e.
asumsi
mengenai konflik
f.
sumber-sumber
yang terbatas
g.
budaya sistem
sosial
|
a.
interaksi
sosial konflik dalam fase-fase konflik
b.
memperbesar
dan menggunakan kekuasaan
c.
manajemen
konflik
-
strategi
konflik
-
taktik
konflik
-
gaya
manajemen konflik
d.
agresi
e.
manajemen
konflik
-
mengatur
sendiri
-
intervens
pihak ketiga :
proses pengadilan,
proses administrasi,
arbitrase,mediasi,ombudsman
|
a.
frustrasi
b.
marah dan
dendam
c.
kecewa
d.
sumber tidak
dipakai untuk prosuktivitas
e.
konflik
berlangsung terus menerus tanpa solusi
f.
terciptanya
sinergi negatif atau sinergi positif
g.
produktifitas
menurun
h.
resolusi
konflik
-
menang><menang
-
menang><kalah
-
kalah><kalah
i.
terciptanya
norma dan nilai-nilai baru
j.
perubahan
sistem sosial
|
Dari tabel tersebut menggambarkan model linier proses konflik yang
terjadi dari masukan, proses, dan keluaran konflik. Setiap konflik mempunyai
masukan, proses, dan keluaran konflik yang unik dan berbeda dengan konflik
lainnya.
Istilah proses juga digunakan dalam pengertian konflik namun tidak
terjadi seketika,tetapi memerlukan waktu dari terjadinya perbedaan sampai
terjadinya solusi konflik
b.
dua
pihak atau lebih : kecuali konflik personal, konflik terjadi diantara dua pihak
atau lebih . pihak yang terlibat konflik (individu-individu, individu-kelompok,
kelompok-kelompok,organsasi-organisasi)
c.
saling
tergantung : pihak yang terlibat konflik saling tergantung atau interdependen
satu sama lain. Artinya pihak-pihak tersebut tidak bebas untuk melakukan
sesuatu tanpa campur tangan atau bantuan,izin, dan merugikan atau mengurangi
kebebasan pihak lainnya.
d.
Pertentangan
mengenai objek konflik : objek konflik adalah sesuatu yang menyebabkan
terjadinya konflik. Pihak yang terlibat konflik mempunyai perbedaan
pendapat,yaitu sikap atau kepercayaan mengenai objek konflik.
e.
Diekspresikan
: pertentangan akan menjadi konflik jika di ekspresikan. Jika pertentangan
tidak atau belum diekspresikan,maka konflik bersifat laten atau tidak
kelihatan. Mungkin perbedaan pendapta mengenai objek konflik sudah
terjadi,tetapi kedua belah pihak diam saja dan belum terjadi interaksi mengenai
perbedaan tentang objek konflik. Konflik baru terjadi ketika perbedaan tersebut
diinteraksikan. Ekspresi mengenai objek konflik merupakan kejadian pemicu
terjadinya konflik. Pengekspresian dapat menggunakan bahasa verbal,bahasa
badan,atau bahasa tertulis.
f.
Pola
prilaku : saat konflik terjadi,pihak yang terlibat menggunakan pola prilaku
tertentu. Pola prilaku adalah kecenderungan orang untuk berperilaku secara
tertentu dalam menghadapi situasi konflik. Gaya manajemen konflik dipengaruhi
sejumlah faktor yang akan dibahas lebih terperinci pada pembahasan selanjutnya.
g.
Interaksi
konflik : proses konflik menimbulkan interaksi konflik diantara para pihak .
interaksi bisa berupa menuduh,saling menyalahkan,saling mengumpat, mencari
teman, menyelamatkan muka (face saving),saling melakukan agresi,melakukan
negoisasi,atau meminta bantuan pihak ketiga untuk menyelesaikan konflik.
h.
Keluaran
konflik : interaksi konflik diantara para pihak menghasilkan keluaran konflik
yang unik, untuk masing-masing jenis konflik. Keluaran konflik bisa berupa
ditemukannya solusi atas suatu konflik,seperti win & win solution,win &
lose solution, lose &lose solution. Keluaran konflik juga bisa menciptakan
suatu perubahan sistem sosial.
C.
Manajemen konflik
Berikut
Definisi manajemen konflik menurut para ahli [4]
|
Lynne
irvine (1998)
|
“The
strategy which organizations and individual employ to identify and manage
differences,thereby reducing the human and financial costs or unmanaged conflict,while
harnessing conflict as a source of innovation and improvement.”
|
|
Wikipedia
|
“Conflict
management refers to the long-term management of intractable conflict. It is
label for the variety of ways by wich people handle grievances standing up
for what they consider to be right and against what the consider to be wrong.
Those ways include such diverse phenomenan as gossip, ridicule, lyching, terrorism,
warfare, feuding, genocide, law, mediation, and avoidance.”
|
|
United
States Transfortation Security Administration
|
“Identifies
and takes steps to prevent potential situations that could result in
unpleasant confrontations resolve conflicts and disagreements in a positive
and constructive manner to minimize negative impact.”
|
Berbagai definisi tersebut memiliki formulasi yang berbeda,namun
mempunyai inti atau makna yang sama.
Manajemen konflik : sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau
pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan
konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.
2.
Aspek-aspek yang terkait dengan manajemen konflik
Menurut Gottman dan Korkoff (Mardianto, 2000) menyebutkan bahwa
secara garis besar ada dua manajemen konflik, yaitu :[5]
a.
Manajemen konflik destruktif
Adalah
bentuk penanganan konflik dengan menggunakan acaman, paksaan, atau kekerasan.
Adanya usaha ekspansi yang meninggi di atas isu awalnya atau bisa dikatakan
individu cenderung menyalahkan.
Dalam
konflik destruktif, pihak-pihak yang terlibat konflik tidak fleksibel atau
kaku, karena tujuan konflik di definisikan secara sempit yaitu untuk
mengalahkan satu sama lain. Interaksi konflik berlarut-larut,siklus konflik
tidak terkontrol karena menghindari isu konflik yang sesungguhnya. Interaksi
pihak-pihak yang terlibat konflik membentuk spiral yang panjang yang makin lama
makin menjauhkan jarak pihak-pihak yang terlibat konflik. Pihak-pihak yang
terlibat konflik menggunakan teknik manajemen konflik kompetisi, ancaman,
konfrontasi, kekuatan, agresi, dan sedikit sekali menggunakan negoisasi untuk
menciptakan win&win solution. Konflik jenis ini merusak kehidupan dan
menurunkan kesehatan organisasi. Konflik destruktif sulit diselesaikan karena
pihak-pihak yang terlibat konflik berupaya saling menyelamatkan muka mereka.
Upaya menyelamatkan muka membuat konflik berlangsung lama,menghabiskan
sumber-sumber pribadi dan organisasi,serta menurunkan produktivitas pribadi dan
organisasi
b.
Manajemen konflik konstruktif
Merupakan
bentuk penanganan konflik yang cenderung melakukan negosiasi sehingga terjadi
satu tawar menawar yang menguntungkan serta tetap mempertahankan interaksi
sosialnya. Selain itu dapat pula menggunakan bentuk lain yang disebut reasoning
yaitu sudah dapat berpikir secara logis dalam penyelesaian masalah.
Konflik
konstruktif merupakan konflik yang prosesnya mengarah kepada mencari solusi
mengenai substansi konflik. Konflik jenis ini membangun sesuatu yang baru atau
mempererat hubungan pihak-pihak yang terlibat konflik .
Interaksi
pihak-pihak yang terlibat konflik merupakan interaksi membangun dan makin
mendekatkan jarak interaksi sosial diantara mereka dan membantu pihak-pihak
yang terlibat konflik untuk mencapai objek mereka. Disamping itu konflik jenis
ini memungkinkan interaksi konflik yang keras kembali normal dan sehat . akhir
dari konflik konstruktif antara lain yaitu win&win solution,solusi
kolaborasi atau kompromi,serta meningkatkan perkembangan dan kesehatan
organisasi.
3.
Teori konflik
Perkembangan bidang ilmu konflik dan aplikasinya dalam penyelesaian
konflik menciptakan beragam teori mengenai konflik . teori-teori tersebut
memandang konflik dari berbagai perspektif dengan asumsi yang berbeda.
Disamping itu aspek konflik yang menjadi objek teori juga beragam. Sebagai
contoh, ada teori mengenai proses terjadinya konflik, ada teori mengenai gaya
manajemen konflik serta ada teori mengenai strategi dan taktik konflik.
Teori-teori mengenai konflik membantu para ilmuan dan praktisi
konflik untuk memperoleh penjelasan mengenai mengapa konflik terjadi,apa
penyebab konflik dan bagaimana proses terjadinya suatu konflik. Setiap teori
menjelasan kekuatan internal dan eksternal yang mendorong bagaimana orang
bersikap dan berperilaku secara tertentu dalam menghadapi konflik.
a.
Teori dialektika hegel
Georg Wilhelm Friedrich Hegel 1770-1831) seorang filsufidealis
jerman mengemukakan teori dealektika. Menurut Hegel : setiap gerakan proses
atau kemajuan merupakan hasil konfli dengan proses tertentu. Proses konflik
tersebut adalah bertentangan antara tesis,antitasis,dan sintesis.[6] Tesis
merupakan suatu ide atau gerakan historis. Ide atau gerakan berisi ketidak
sempurnaan yang akan menimbulkan oposisi atau antitesis. Sebagai hasil konflik
keduanya, muncullah pendapat yang ketiga yaitu antitesis. Sintesis akan menjadi
suatu tesis baru yang akan menimbulkan antitesis baru dan kemudian menghasilkan
sintesis baru dan seterusnya.
proses dialektika tersebut akan berlangsung hingga terciptanya ide
absolut yaitu sintesis akhir yang sangat sempurna dan tidak menimbulkan
antitesis baru.
b.
Teori satya graha
Mohandar
Karachad (Mahatma) Gandhi adalah pemimpin perjuangan kemerdekaan india dalam
melawan pemerintah penjajahan inggris. Beliau mengemukakan konsep konflik
perlawanan tanpa kekerasan yang terkenal dengan nama Satya Graha.
Satya
graha berasal dari kata bahasa sansekerta : satya artinya kebenaran dan agraha
artinya teguh. Jadi dapat disimpulkan bahwa Konsep satya graha berarti teguh
terhadap kebenaran dan menolak semua yang tidak benar. Atau juga bisa diartikan
dengan mempertahankan kebenaran, tidak dengan memberikan penderitaan kepada
lawan, tapi kepada diri sendiri.[7]
Langkah-langkah
dalam menggunakan teori satya graha ini yaitu dengan menggunakan strategi dan
taktik konflik yaitu :
1.
Strategi
langkah bijak : yaitu dengan menggunakan negoisasi dan arbitrase. Yang meliputi
-
pengumpulan
dan analisis fakta di tempat konflik dengan partisipasi lawan konflik
-
mengidentifikasi
minat yang sama dengan lawan konflik
-
formulasi
tindakan dan diskusi yang diterima lawan konflik
-
upaya
untuk kompromi tetapi tidak mengalah pada suatu hal yang esensial.
2.
Taktik
konflik :
apabila
dengan langkah langkah sebelumnya konflik tidak dapat diselesaikan ,maka
menggunakan langkah selanjutnya yaitu dengan melaksanakan tindakan langsung
seperti : agitasi,ultimatum, pemboikotan ekonomi, pemogokan, non koperasi,
pembangkangan sipil, perampasan fungsi-fungsi pemerintahan, dan penciptaan
pemerintahan paralel.[8]
Jika
salah satu dari tindakan tersebut dapat menyelesaikan konflik, tindakan
berikutnya tidak diperlukan .
Strategi satya graha juga bisa diterapkan untuk setiap jenis
konflik. Akan tetapi taktik yang digunakan tidak bisa digeneralisasi untuk
semua jenis konflik dengan melalui suatu trobosan taktik yang sesuai dengan
situasi konflik yang ada.
c.
Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika banyak digunakan untuk menjelaskan latar
belakang dan proses terjadinya konflik. Sigmeun freud dan para pengikutnya
mengemukakan teori psikodinamika yang menjelaskan bagaimana keadaan
interpersonal dan aktifitas mental bisa menimbulkan perilaku dalam konteks
sosial (Joseph P.Folger & Marshall S. Poole,1984) .[9]
Pemikiran teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan bagaimana
konflik dapat terjadi. Teori ini disusun berdasarkan asumsi bahwa : motivasi
manusia seperti mesin hidraulis. Pikiran manusia merupakan sumber energi jiwa
yang berhubungan dengan berbagai aktivitas, mulai dari aktivitas positif sampai
aktivitas negatif yang merusak.
Terdapat tiga komponen model dasar teori psikodinamika,diantaranya
yaitu :
a.
Ide
: merupakan resevoir energi instingtif yang berisi dorongan biologis. Ide-ide
tidak disadari dan peroperasi berdasarkan prinsip kesenangan, dorongan untuk
mencapai kesenangan dan menghindari kesakitan. Karakteristik ide adalah proses
berpikir primer yang tidak logis, irasional, dan termotifasi oleh suatu
keinginan untuk segera mendapatkan gratifikasi
dari suatu impuls.
b.
Ego
: merupakan komponen yang memanajemeni
konflik antara ide dan hambatan-hambatan dunia yang sesungguhnya. Ego
beroperasi berdasarkan prinsip realitas. Karakterisasi ego adalah proses
berfikir skunder yang logis dan rasional. Peran ego adalah untuk mencegah ide
dari memberikan gratifikasi impuls dengan cara yang tidak tepat
c.
Superego
: merupakan sistem nilai atau komponen kepribadian. Superego berisi standar
moral yang dipelajari dari orang tua dan masyarakat. Superego memaksa ego untuk
menyesuaikan diri tidak hanya pada realitas, tetapi juga pada moralitas yang
ideal. Dari sini superego menyebabkan orang merasa bersalah jika mereka
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan masyarakat.
d.
Teori pertukaran sosial
Teori pertukaran
sosial digunakan oleh para peneliti untuk menganalisis dan menjelaskan proses
terjadinya konflik. Teori ini disusun berdasarkan asemsi :
1.
Perilaku
manusia dalam interaksi sosial merupakan aktivitas pertukaran antara imbalan
dan biaya. Pertukaran tersebut meliputi pertukaran yang kelihatan dan
pertukaran yang tidak kelihatan. Pertukaran kelihatan itu seperti pertukaran
barang dan jasa. Sedangkan pertukaran yang tidak kelihatan itu seperti
pertukaran cinta antara dua sejoli. Pertukaran dalam interaksi sosial
berhubungan dengan pertukaran manfaat, yaitu memberikan sesuatu yang bernilai
dan terjadi timbal balik.
Pertukaran timbal balik terjadi karena adanya saling ketergantungan
dan konflik terjadi karena adanya pihak yang terlibat konflik saling tergantung
dan saling menguntungkan secara timbal balik.
2.
Seseorang
berperilaku didorong dan diarahkan oleh ketertarikan pribadi untuk memenuhi
kebutuhan pribadinya. Dalam suatu pertukaran, orang mencari nilai lebih atau
nilai tambah dari pertukaran tersebut, dalam interaksi sosial, ada orang yang
berupaya memaksimalkan manfaat pribadi tanpa memikirkan kerugian orang lain.
Jika
hubungan interaksi sosial dilakukan dengan saling merugikan,interaksi tersebut
tidak akan lama. Pihak yang merasa dirugikan dalam interaksi akan menghentikan
interaksi sosial dan situasi tersebut mencerminkan terjadinya suatu konflik.
3.
Dalam
suatu interaksi sosial ada beberapa hal yang menimbulkan konflik yaitu :
keadilan, kewajaran, persamaan hak, dan kekuasaan.[10]
Keadilan,
menurut Boris Kabanoff 1991, keadilan itu ada dua yaitu keadilan distributif
yaitu dimana keadilan yang didapatkan berdasarkan distribusinya. Dan yang kedua
yaitu keadilan prosedural, keadilan yang berdasarkan proses yang dilakukannya.
Kewajaran,
dalam suatu hubungan kerjasama produktifitas ekonomi merupaka tujuan utama,
kewajaran merupakan prinsip utama daripada persamaan hak dalam keadilan
distributif. Apabila persamaan hak diterapkan maka produktifitas tidak bisa
berjalan dengan baik,dan bisa menimbulkan konflik.
Persamaan
hak, apabila tujuan interaksi sosial untuk mengembangkan atau mempertahankan
kekohesifan hubungan sosial yang menyenangkan, maka persamaan hak merupkan
prinsip dominan dalam hubungan sosial. Persamaan hak artinya setiap orang yang
berinteraksi sosial mempunyai nilai yang sama dan menciptakan kondisi optimal
untuk memelihara harga diri, ketiadaan persamaan hak akan meniadakan
kekohesifan hubungan sosial yang akan mengarah timbuknya suatu konflik.
Kekuasaan,
dalam suatu interaksi sosial, kekuasaan merupakan hasil ketergantungan diantara
dua pihak yang berinteraksi. Konflik tidak akan terjadi jika setiap orang dalam
interaksi sosial mengakui dan menghargai kekuasaan yang dimiliki sseorang
secara sah. Konflik umumnya terjadi jika setiap orang dalam suatu interaksi
sosial berupaya menambah kekuasaannya dengan cara tidak mengakui kekuasaan
orang lain atau merendahkan nilai kekuasaan orang lain.
e.
Terori permainan
Teori lainnya
yang banyak digunakan dalam memahami proses konflik adalah teori permainan yang
sering juga disebut dengan sains strategi.[11]
Menurut
teori ini, konflik sama halnya dengan permainan, dimana ada dua pihak atau
lebih yang bermain menggunakan strategi dan taktik bermain untuk mengalahkan
lawan bermainnya. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh matematesian dari
universitas princeton.
Permainan
juga sering dikelompokkan menjadi permainan kompetitif dan permainan
kooperatif, dalam permaina kompetitif salah satu pihak harus menang dan pihak
lain harus kalah,sedangkan dalam permainan kooperatif para pihak atau para
pemain dapat menghasilkan nilai yang sama atau nilai yang berbeda.
Menurut
Joseph P. Folger & Marshal S. Poole (1984).. teori permainan didasarkan
pada empat asumsi :
1.
Struktu
permainan dibentuk oleh pilihan atau opsi yang tersedia untuk para pemain dan
imbalan-imbalan yang mereka terima dari memilih suatu pilihan tertentu.
2.
Pilihan
yang tersedia untuk para pemain jumlahnya terbatas dan para pemain mengetahui
pilihan tersebut.
3.
Hasil
yang berhubungan dengan gerakan tertentu tergantung pada pilihan pemain dan
lawan main
4.
Para
pemain mengetahui hasil yang berhubungan dengan setiap kombinasi pilihan dan
hasil yang menarik, setra mempunyai makna bagi mereka
5.
Pilihan
seorang pemain ditentukan oleh perhitungan hasil. Perilaku permainan rasional
terdiri dari seleksi terhadap pilihan-pilihan yang menghasilkan keluaran yang
menyenangkan, baik perolehan maksimum atau pencapaian suatu norma yang
bermanfaat seperti kedilan distributif.
f.
Teori fase
Teori fase
konflik merupakan teori yang bisa digunakan untuk memahami proses terjadinya
konflik. Teori ini sudah disusun berdasarkan asumsi bahwa proses terjadinya
konflik melalui fase-fase dengan pola tertentu dan dalam kurun waktu tertentu.
Donald Rothchild dan chandra lekha sriram
mengemukakan konflik antar kelompok dalam empat fase [12]
1.
Fase
potensi konflik : dalam fase ini konflik telah terjadi,tetapi dalam level
intensitas sangat rendah. Faktor struktural dan penyebab konflik memicu
perbedaan diatara kelompok disamping perbedaan sosio-ekonomi, kultur dan
politik. Tindakan preventif dari fase ini tidak beresiko dan mempunyai potensi
untuk berhasil.
2.
Fase
pertumbuhan : dalam fase ini, isu yang dipertentangkan dan kelompok-kelompok
lebih didefinisikan.ikatan dan hubungan antarelit masih terjadi dan isu yang
dipertentangkan masih bisa dirundingkan, biaya tindakan preventif meningkat
tetapi kemungkinan berhasil masih posituf.
3.
Fase
pemicu dan eskalasi.
Persepsi
perubahan yang nyata dalam kelompok kondisi ekonomi, sosial, politik bisa
memicu eskalasi. Permulaan kekerasan masal merupakan ambang fundamental
konflik. Ikatan antarelit putus, interaksi sosial memfokuskan pada kekerasan
yang terorganisasi ketika pertukaran meredup. Kekerasan meningkat, kelompok yang
bertikai kehilangan kepercayaan satu sama lain dan merasa tidak dapat
berkompromi. Kekerasan dapat membuat intervensi akan beresiko mahal. Pada fase
ini tindakan ntuk mencegah kekerasan agar tidak bereskalasi ke kelompok lain
masih mungkin untuk dilakukan.
4.
Fase
pascakonflik. Sesudah de-eskalasi kekerasan menurun,intervensi preventif dengan
tujuan membangun kembali hubungan damai dan saluran komunikasi antar kelompok
yang terlibat konflik untuk menghindari terulangnya kekerasan. Menurut
Rothchild dan sriram, fase ini terdiri dari dua bagian terpisah
Fase
pengembangan militer /keamanan jangka pendek :dengan meningkatkan kepercayaan
terhadap perdamaian seperti dengan proses pelucutan senjata
Fase
pengembangan institusi jangka panjang :
untuk membantu membangun kembali hubungan antar kelompok dengan rekonstruksi
sosial, politik, dan ekonomi. Pembangunan institusi dan demokratisasi harus
meletakkan fondasi perdamaian berkelanjutan.
g.
Teori ruang
Awal teori
ruang adalah teori lewin mengenai iklim organisasi pada tahun 1951. Lewin
melukiskan prilaku manusia sebagai gerakan melalui suatu ruang kehiduan dibawah
pengaruh berbagai kekuatan yang berada dalam ruang. Ruang kehidupan terdiri
atas konsepsi orang mengenai tujuan penting yang akan dicapai, hambatan dan
persyaratan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Morton
Deutsch murid dari Lewin menyatakan bahwa proses resolusi konflik yang terjadi
sangat dipengaruhi oleh konteks dimana konflik terjadi. Ia berpendapat bahwa
wajah kontekstual kritis dari situasi konflik, yang akan membedakan antara
resolusi kooperatif dan resolusi yang berkopetensi menghasilkan kompetisi
destruktif adalah tipe interdependensi yang terbentuk diantara pihak-pihak yang
terlibat konflik.[13]
Interdependensi
tidak didefinisikan secara objektif tetapi didefinisikan oleh persepsi dan
kepercayaan dari pihak-pihak yang terlibat konflik, jika mereka mempersepsikan
situasi sebagai promotif, mereka akan bertindak sebagai promotif. Jika mereka
mempersepsikan situasi sebagai kompetisi, mereka akan bertindak untuk
berkompetisi. Persepsi interdependensi promotif cenderung untuk mempromosikan
interaksi kooperatif. Disisi lain persepsi interdependensi kompetitif cenderung
untuk menghasilkan prilaku kompetisi.
Deutsch
juga mengemukakan bahwa konsekuensi interaksi lainnya dibawa interdependensi
promotif dan kompetitif.
Dibawah
interdependensi promotif yang menciptakan iklim kerja sama, pihak-pihak yang
terlibat konflik akan menekankan pada
-
ketertarikan
bersama dan pembagian kerja yang terkoordinasi
-
menciptakan
sikap saling percaya dan bersahabat
-
mempersepsikan
persamaan dalam kepercayaan dan tujuan
-
berkomunikasi
lebih terbuka dan lebih jujur
Dibawah interdependensi kompetitif yang menciptakan iklim
kompetitif, pihak yang terlibat konflik akan memfokuskan pada
-
ketertarikan
yang antagonistik dan saling menghambat satu sama lain
-
memperlihatkan
sikap curiga dan kekerasan
-
menekankan
pada perbedaan
-
serta
berkomunikasi dengan cara yang menyesatkan dan menahan diri.
h.
Teori sistem organisasi
Konflik dan
manajemen konflik dapat dianalisis dari sudut pandang teori sistem dalam
organisasi. Konflik ekonomi, politik, sosial dan sebagainya terjadi dalam
konteks sistem organisasi.
Menurut
von Bertalanffy suatu organisasi merupakan suatu sistem yang terintegrasi
melalui struktur-struktur dan fungsi-fungsi yang saling memiliki
ketergantungan. Suatu organisme terjadi dari suatu molekul-molekul yang harus
bekerja sama secara harmonis. Setiap molekul harus mengetahui apa yang
dilakukan oleh molekul-molekul lainnya. Masing-masing harus mampu menerima dan
disiplin untuk mematuhinya.
Menurut
von Bertalanffy 1968 : teori sistem merupaka sains mengenai keseluruhan. Untuk
memahami sesuatu kita harus memahami keseluruhan dari sesuatu tersebut. Hal ini
bertentangan dengan para saintis tradisional yang menggunakan pendekatan
reduksionis, yang mengemukakan bahwa untuk memeahami sesuatu harus memecah
sesuatu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.[14]
Dengan memahami hal-hal yang lebih kecil tersebut, hal yang dilakukan dan
prilaku keseluruhan bisa diprediksi. Hal ini bertentangan dengan teori sistem
dari Von Bertalanffy yang memulai memahami sistem secara keseluruhan kemudian
memahami kontribusi subsiste-subsistem terhada sistem.
Dengan
teori siten dari von Bertalanffy tersebut pola analisis sistem mempergunakan
sejumlah asumsi yaitu :
1.
Pola
pikir kesatuan
2.
Subsistem
3.
Saling
tergantung
4.
Ikatan
sinergi
5.
Garis
batas sistem
6.
Tujuan
sistem
7.
Budaya
organisasi
8.
kepemimpinan
i.
Teori negoisasi muka
Teori negosiasi
muka dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey (1985 dan terakhir kali disempurnakan
pada tahun 2005). Teori ini berdasarkan asumsi bahwa akar konflik adalah
berdasarkan manajemen identitas pada level individual dan level budaya.
Berbagai fakta identitas individual dan budaya dilukiskan dalam bentuk berbagai
muka .[15]
Muka
adalah citra publik dari individu atau kelompok yang masyarakatnya melihat dan
dievaluasi berdasarkan norma dan nilai-nilai masyarakat. Konflik terjadi jika
muka kelompok atau individu terancam.
Menurut
teori ini, konflik akan terjadi terkait dengan isu tiga tujuan, yaitu isi,
hubungan, dan identitas budaya. Konflik mengenai isu isi tujuan merupakan isu
eksternal yang dipegang teguh oleh individual dengan nilai tinggi. Konflik
mengenai isu hubungan tujuan terkait dengan bagaimana para individu
mendefinisikan hubungan mereka satu sama lain dalam situasi konflik. Konflik
mengenai identitas tujuan berkaitan dengan isu konfirmasi identitas,
penghargaan dan persetujuan dari para anggota yang terlibat konflik. Tujuan ini
mempunyai hubungan yang sangat dalam dengan budaya dan sangat berhubungan
langsung dengan isu untuk menyelamatkan muka.
Muka
merupakan citra publik individu atau kelompok yang dievaluasi oleh budaya
mereka sendiri berdasarkan norma, nilai-nilai dan kepercayaan. Hal tersebut
merupakan pertimbangan utama dalam manajemen konflik. Jika muka seseorang
terancam, secara efektif akan menimbulkan sejumlah derajat respons emosional.
Pada level kognitif, ancaman muka diukur berdasarkan derajat seberapa jauh
tindaknya menyimpang dari norma-norma prilaku. Derajat penyimpangan dari
perilaku normatif akan menimbulkan perilaku kerja muka. Kerja muka menunjukkan
keterampilan komunikasi yang dipakai oleh seseorang untuk menegakkan dan
memanajemeni muka.[16]
Teori
negosiasi muka disusun berdasarkan asumsi dan peraturan sebagai berikut :
a.
Komunikasi
dalam suatu budaya adalah berdasarkan mempertahankan dan menegoisasikan muka.
b.
Muka
menjadi suatu masalah jika identitasnya dipertanyakan
c.
Perbedaan
budaya individualistik dengan kolektivistik serta jarak kekuasaan kecil dan
besar akan sangat membentuk manajemen muka.
d.
Budaya
individualistik lebih menyukai kerangka berorientasi pada diri sendiri,
sedangkan budaya kolektivistik lebih menyukai kerangka orang lain.
e.
Budaya
jarak kekuasaan kecil lebih menyukai suatu kepercayaan, setiap individu adalah
sama, sedangkan budaya jarak kekuasaan besar lebih menyukai kerangka hierarki.
f.
Perilaku
juga dipengaruhi oleh varian kultural, hubungan individual, dan faktor-faktor
situasional.
g.
Kompetensi
dalam komunikasi interkultural merupakan kulminasi ilmu pengetahuan dan
kesadaran.
4.
contoh berbagai ragam peristiwa konflik dan solusinya
a. Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena harus
bekerja. Berdasarkan data survei anak usia 10-17 tahun yang bekerja, seperti
dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2006, tercatat sebanyak 2,8 juta
anak telah menjadi pekerja.
Dari hasil
studi tentang pekerja anak yang dilakukan PGRI dengan ILO-East tahun 2008 di
Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat,
ditemukan bahwa anak-anak usia 9-15 tahun terlibat dengan berbagai jenis
pekerjaan yang berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental-emosional, dan
seksual.
Awalnya
mereka membantu orangtua, tetapi kemudian terjebak menjadi pekerja permanen.
Mereka sering bolos sekolah dan akhirnya putus sekolah. Karena itubagi
anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja belum cukup.
Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk
pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke
sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya
pendidikan.[17]
Solusi dalam
menyikapi konflik diatas:
Sudah bukan
hal baru lagi ketika kita mendengar kemiskinan menjadi suatu polemik yang
selalu menghantui masyarakat ekonomi kelas bawah. Pendidikan yang seharusnya
dikenyam seluruh lapisan masyarakat, khususnya di usia anak-anak, harus
terbengkalai tak terurus begitu saja dikarenakan himpitan ekonomi yang
menyelimutinya. Seperti uraian permasalahan tercantum diatas, tak seharusnya
pula kita berhenti untuk berfikir bagaimana agar sekiranya konflik semacam itu
dapat dihindari atau paling tidak dapat diminimalisir seoptimal mungkin.
Seorang
anak seolah merasa terpaksa membantu orangtuanya dengan bekerja turut mencari
penghasilan tambahan, namun karena desakan berbagai faktor, seperti waktu, rasa
lelah seusai bekerja, tidak terfokusnya pikiran, ataupun hubungan sosial dengan
temannya, jelas secara perlahan hal tersebut akan menyebabkan si anak
mengeluarkan keputusan untuk berhenti sekolah. Sangat disayangkan memang,
ibarat melakukan pengorbanan untuk dapat meraih sepeser uang dengan cara
membayarnya dengan pendidikan, yang notabene nilai pendidikan ialah jelas jauh
punya nilai guna dikemudian hari kelak. Bahkan cukup ironi jika ada orangtua
dari keluarga ekonomi kurang mampu yang sampai beranggapan bahwa bersekolah
dikatakan hanya akan menambah pengeluaran dari pengahasilan yang telah
didapatnya.
Pemerintah
pun sebagai wahana dalam memberikan pelayanan dirasa belum efektif dalam
mengayomi masyarakatnya. Program-program pemerintah yang ditujukan kepada
sekolah dasar sampai sekolah menengah, seperti Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) ataupun Dana program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM untuk
pendidikan faktanya belum cukup untuk mensiasati permasalah ini. Karena
permasalahan akan sekolah tidak bisa berhenti hanya dengan pembayaran iuran SPP
saja, tapi juga perlu diperhatikan permasalahan lain yang cukup berpengaruh
terhadap sisi psikologis anak misalnya masalah pembelian buku pelajaran, biaya
transportasi, biaya seragam sekolah dan juga tak ketinggalan status sosial anak
dimata anak-anak yang mungkin lebih mampu yang disinyalir sebagai penyebab
munculnya rasa malas dating ke sekolah yang ujungnya ialah berhenti bersekolah.
Kini
menjadi tugas urgen bagi Pemerintah maupun orangtua untuk sekiranya dapat
berfikir mengeluarkan inisiatif demi mengatasi konflik semacam ini, orangtua
sebagai orang terdekat dengan anak sudah seharusnya berfikir jernih untuk dapat
memberikan pengarahan yang lebih tepat bagi anak-anaknya, orangtua harus
menyadari bahwa si anak haruslah diberikan haknya untuk memperoleh pendidikan,
memberikan pengarahan agar anak meyakini bahwa pendidikan merupakan bekal penting
dalam menjalani kehidupan dan orangtua pun, khususnya ayah, harus menyadari
bahwa menafkahkan keluarga itu sudah merupakan kewajibannya.
Berbicara
seorang ayah atau orangtua yang menganggur, dalam hal ini jelas perlu adanya
turun tangan pemerintah untuk memberikan perhatian penuh akan problem ini.
Pemerintah haruslah secara intensif dan gencar-gencarnya untuk terus memberikan
penyuluhan pengajaran keterampilan bagi masyarakat pengangguran, untuk kemudian
memberikan modal yang sepantasnya demi membuka lapangan pekerjaan bagi
masyarakat tak mampu. Sehingga jika memang orangtua sudah merasa cukup dengan
ekonominya, sudah barang tentu si anak akan di sekolahkan sesuai tuntutan yang
berlaku.
Bagitu pula
halnya, dengan sikap golongan-golongan masyarakat ekonomi sangat mampu, sungguh
sangat diharapkan timbulnya rasa humanisme atau kepedulian sosial terhadap
masyarakat miskin yang ada. Jujur saja sangatlah lucu ketika jurang antara si
Kaya dan si Miskin masih sangat curam, disatu sisi si Miskin yang untuk mengenyam
pendidikan dasarpun harus terhalang karena himpitan ekonomi, sedangkan di sisi
lain sebagian oknum dari pihak si Kaya masih seolah tidak melihat masyarakat
kelas bawah yang ada dihadapnnya. Lebih lanjut, memang perlu adanya kesadaran
terhadap pribadi-pribadi jiwa manusia untuk menumbuhkan rasa keadilan. Dalam
hal kehidupan beragama, Islam pun sebenarnya sangat menekankan pengaturan
distribusi ekonomi yang adil agar ketimpangan di dalam masyarakat dapat dihilangkan.
Firman Allah SWT, “supaya harta itu jangan hanya beredar di antara
orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr : 7). Selebihnya peran
pemerintah sebagai saran atau mediator dalam mengkoordinir masyarakatnya
sangatlah dibutuhkan agar sistem yang seharusnya dijalankan tidak terdiam hanya
terpaku seolah tak ada jalan keluar terhadap permasalahan yang melanda
warganya. Dan kita sebagai individu manusia sekiranya turut juga berperan agar
bisa lebih berkontribusi terhadap masyarakat kelas bawah agar dapat hidup
bersama berdampingan tanpa melupakan hak yang sudah sepantasnya mereka peroleh.
b. JAKARTA,
SENIN — Terhambatnya
pembangunan di daerah-daerah perbatasan antara lain merupakan buntut dari
persoalan konflik internal di daerah tersebut. Akibatnya, pembangunan
perbatasan masih belum bisa mengupayakan kesejahteraan rakyatnya.
Hal tersebut dikatakan Kepala Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie
di sela-sela seminar "Masalah Pembangunan di
Perbatasan: Upaya Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan
Masyarakat" di LIPI Jakarta, Senin (16/2). "Level paradigma
penanganan persoalan konflik di perbatasan harus diganti dengan pembangunan
kesejahteraan wilayahnya," ungkap Umar.
Menurutnya, banyaknya warga miskin di daerah tertinggal menjadi masalah yang ironi. Sebab, ketertinggalan itu justru memicu persoalan lain, seperti masalah sosial, keamanan, serta masalah kebangsaan.
Menurutnya, banyaknya warga miskin di daerah tertinggal menjadi masalah yang ironi. Sebab, ketertinggalan itu justru memicu persoalan lain, seperti masalah sosial, keamanan, serta masalah kebangsaan.
Selain itu, lemahnya koordinasi antarinstansi
termasuk penyaluran modal masih belum jernih sehingga penundaan lebih kerap
terjadi. "Ditambah lagi permasalahan warisan yang ditinggalkan penjajahan
yang mengakibatkan kemiskinan yang berlarut-larut," tambah Umar.
Perlu penanganan multi disiplin dan kerja sama
berbagai pemangku kepentingan, dalam upaya pembangunan daerah tertinggal.
Pemerintah dalam satu sisi berfungsi sebagai promotor serta memberi stimulus
fiskal, papar Umar. Sedangkan lembaga lainnya bisa masuk dalam berbagai bidang,
seperti pendidikan, kesehatan, dan masalah upaya pembangunan sumber daya
manusia.[18]
Analisis dan
solusi:
Berdasarkan artikel yang diambil di harian
kompas online diatas dapat dianalisis terjadi konflik internal karena
terhambatnya pembangunan di daerah-daerah perbatasan yang mengakibatkan
pembangunan perbatasan masih belum bias mengupayakan kesejahteraan rakyatnya.
Konflik ini dapat terjadi karena lemahnya
koordinasi antarinstansi termasuk penyaluran modal masih belum jernih yang
mengakibatkan terjadi penundaan dan terhambatnya pembangunan di daerah-daerah
perbatasan. Konflik
seperti ini harus cepat diatasi jika dilihat menurut “kacamata” etika bisnis,
karena kasus konflik ini merugikan banyak pihak. Khususnya pihak masyarakat
sekitar Comoro, Subdistrik Comoro, Dili, Timor Leste.
Menurut saya, solusi untuk kasus konflik
seperti ini sebaiknya menggunakan metode Arbitrasi, yaitu adanya peran orang
ketiga sebagai penengah untuk penyelesaian masalah konflik ini. Peran orang ketiga dalam hal ini
bisa berupa lembaga atau instansi lain dari pemerintah yang bertugas untuk
mengawasi koordinasi antarinstantsi agar menjadi
semakin lebih kuat koordinasinya. Dan mengawasi penyaluran modal agar lebih
jernih dan transparan sehingga tidak sering terjadi penundaan yang diakibatkan
oleh penyaluran modal.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen konflik : sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau
pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan
konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.
Aspek-aspek
yang terkait dengan manajemen konflik
a.
Manajemen
konflik destruktif
b.
Manajemen
konflik konstruktif
Teori
konflik
a.
Teori
dialektika hegel
b.
Teori
satya graha
c.
Teori
Psikodinamika
d.
Teori
pertukaran sosial
e.
Teori
permainan
f.
Teori
fase
g.
Teori
ruang
h.
Teori
sistem organisasi
i.
Teori
negoisasi muka
Daftar pustaka
Wirawan,konflik dan manajemen konflik teori, aplikasi, dan
penelitian. jakarta : selemba humanika,2009
Hendrik william,bagaimana mengelola konflik petunjuk praktis
untuk manajemen konflik yang efektif.jakarta : PT.bumi aksara,2001
Drs.H.Ahmad
Thontowi,manajemen konflik
[1]Drs.H.Ahmad
Thontowi,manajemen konflik
[2] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.5
[3] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.6
[4] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.131
[5] Drs.H.Ahmad
Thontowi,manajemen konflik
[6] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.16
[7] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.18
[8] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.19
[9] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.29
[10]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.33
[11]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.35
[12]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.38
[13]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.40
[14]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.42
[15] Wirawan,konflik
dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.48
[16]
Wirawan,konflik dan manajemen konflik.selemba humanika : jakarta,2009.hal.49
Tidak ada komentar:
Posting Komentar