PROBLEM
SOLVING KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK DEWASA (20+)
(Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Psikologi KeluargaII)
Dosen
Pengampuh:
Dr. Hj. Mufidah CH,M.Ag

Disusun Oleh:
Lalu
Abdul Ghafur
Rahmat Ramadhan
Fatimatuz Zahro
Ummu Aemanah
Ulul Mu’jizatil Himmah
JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIKIBRAHIM MALANG
2014
PERKEMBANGAN FISIK TIAP
FASE
Secara umum, segala
bentuk fisik, rangka tubuh maupun tinggi dan lebarnya tubuh seseorang dapat
menunjukkan sifat kedewasaan pada suatu individu, hal ini memang kerap kali
digunakan sebagai ukuran kedewasaan seseorang. Akan tetapi, segi fisik saja
belum dapat sepenuhnya menjamin kedewasaan seseorang karena banyak individu
yang telah cukup usia dan kelihatan begitu dewasa tetapi ternyata masiih sering
terlihat bahkan memperlihatkan sifat kekanak-kanakannya. Oleh sebab itu kita
harus mengetahui apakah suatu individu dapat menghadapi segala persoalannnya
dengan mandiri, apakah individu tersebut telah dapat membedakan baik buruknya
serta manfaat dan ruginya sebuah permasalahan hidup, adanya kepercayaan pada
diri sendiri, dapat mengontrol emosi serta bersabar jika mendapatkan suatu
masalah.
Adapun perkembangan
fisik dewasa tiap fase, yaitu:
A. Fase Dewasa Awal (Early Adulthood)
Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri
sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis. Menurut
Hurlock (1990), dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai 40 tahun,
dimana saat perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya
kemampuan produktif. Dari segi fisik , masa dewasa awal adalah masa dari
puncak perkembangan fisik. Perkembanagan fisik sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit demi
sedikit mengikuti bertambahnya umur. Pada masa dewasa awal motivasi untuk
meraih sesuatu yang sangat besar didukung oleh kekuatan fisik yang prima,
sehingga ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa dewasa awal adalah masa
dimana kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu
masalah.
Ciri-ciri fisik dewasa
awal, yaitu:
a. Efisiensi fisik mencapai puncaknya, terutama pada usia 23-27 tahun;
b. Kemampuan reproduktif mereka berada di tingkat yang paling tinggi, pada
perempuan menjadi masa kesuburan yang baik;
c. Kekuatan tenaga dan motorik mencapai masa puncak;
d. Kesehatan fisik berada pada keadaan baik.
B. Fase Dewasa Tengah/Madya (Middle Adulthood)
Masa dewasa madya dimulai pada usia 40 tahun sampai 60 tahun. Masa usia dewasa
madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik yang sudah
mulai agak melemah, termasuk fungsi-fungsi alat indera, dan mengalami sakit
dengan penyakit tertentu yang belum pernah dialami (rematik, asam urat dll). Menurut Hurlock (1980), baik pria maupun
wanita selalu ketakutan akan penampilan fisiknya, pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan pasangan mereka. Peneliatian Nowark (1977) yang dikutip dari
Santrock (1995), menemukan bahwa perempuan yang berusia dewasa madya menganggap
tanda-tanda penuaan sebagai pengaruh negatif terhadap penampilan fisiknya.
Ciri-ciri fisik dewasa
tengah, yaitu:
a. Berat badan bertambah, bahu seringkali membentuk bulat, dan terjadi
penggemukan seluruh tubuh yang membuat perut kelihatan menonjol sehingga
seseorang kelihatan lebih pendek;
b. Otot menjadi lembek dan mengendur disekitar dagu, pada lengan dibagian atas
dan perut;
c. Mulai menurunnya kekuatan fisik, fungsi motorik dan sensori;
d. Gangguan pada ersendian, tungkai, lengan yang membuat mereka sulit berjalan
dan memegang benda yang jarang terjadi pada usia muda;
e. Mulai terjadinya proses menua secara gradual, maksudnya terlihat tanda-tanda
bahwa dirinya mulai tua, seperti tumbuhnya uban di kepala, rambut pada wajah
tumbuh lebih lambat dan kurang subur, adanya kerutan-kerutan pada bagian wajah,
kemampuan fungsi mata berkurang.
-
Rambut pada pria mulai
jarang, menipis, dan terjadi kebotakan pada bagian atas kepala, rambut di
hidung, telinga, dan bulu mata menjadi lebih kaku
-
Rambut pada wanita
semakin tipis dan rambut di atas bibir dan dagu bertambah banyak;
f. Terjadinya perubahan-perubahan seksual. Kaum laki-laki dapat mengalami Climacterium
dan wanita dapat mengalami Menopause. Climacterium dan menopause
merupakan tanda berhentinya kemampuan menghasilkan keturunan dan dapat
menimbulkan penyakit Melancholia involutive (cemas dan merasa diri tak
berguna) peristiwa ini bagi laki-laki lebih lambat datangnya daripada wanita
Ciri-ciri fisik sindrom
Menopause:
1. Sistem reproduksi menurun dan berhenti
2. Penampilan kewanitaan menurun
3. Ketidaknyamanan fisik
4. Berat badan bertambah
5. Penonjolan pada jari
6. Perubahan kepribadian
Ciri-ciri sindrom Climaterium
pada pria:
1. Rusaknya fungsi organ seksual
2. Nafsu seksual menurun
3. Penampilan kelakian menurun
4. Gelisah akan kepribadian
5. Ketidaknyamanan fisik
6. Menurunnya kekuatan dan daya tahan tubuh.
C. Fase Dewasa Akhir/Lansia
Masa dewasa akhir
adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari
usia 60 tahun sampai meninggal yang ditandai dengan adanya perubahan fisik dan
psikologis yang semakin menurun. John W.
Santrock (2002) mengatakan bahwa ada dua pandangan tentang definisi orang
lanjut usia atau lansia, yaitu menurut pandangan orang barat dan
orangIndonesia. Pandangan orang barat yang tergolong orang lanjut usia adalah
orang yang sudah berumur 65 tahun keatas, dimana usia ini akan membedakan seseorang
masih dewasa atau sudah lanjut. Sedangkan pandangan orang Indonesia, lansia
adalah orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Lebih dari 60 tahun karena pada
umunya di Indonesia dipakai sebagai usia maksimal kerja dan mulai
tampaknya ciri-ciri ketuaan.
Ciri-ciri
fisik lansia, yaitu:
a. Kekuatan fisik dan motorik sangat kurang, kadang-kadang ada sebagian fungsi
organ tubuhnya tidak dapat dipertahankan lagi;
b. Sejumlah neuron dan unit-unit sel dasar dari sistem saraf menghilang;
c. Kesehatan rata-rata sangat menurun, sehingga sering sakit-sakitan;
d. Perubahan pada gigi, gigi menjadi kuning dan tanggal serta gusi menyusut
dan harus lebih sering diganti sebagian atau seluruhnya dengan gigi palsu;
e. Biji mata menyusut;
f. Mata kelihatan kurang bersinar daripada ketika mereka masih muda, dan
cenderung mengeluarkan kotoran mata yang menumpuk di sudut mata;
g. Perubahan pada kulit wajah, leher, lengan dan tangan menjadi lebih
kering dan keriput. Kulit di bagian bawah mata mengembung seperti
kantung, dan lingkaran hitam di bagian ini menjadi lebih permanen dan jelas.
Warna merah kebiruan sering muncul di sekitar lutut dan di tengah tengkuk;
h. Tulang-tulang menjadi rapuh;
i. Tulang belakang menjadi bungkuk.
PROBLEM
SOLVING KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK DEWASA (20+)
Keluarga
merupakan stuktur organisasi terkecil dalam masyarakat. Ia dapat disebut
keluarga minimal terdiri dari pasangan ayah dan ibu. Tidak ada kehidupan tanpa
masalah, begitu pula dalam keluarga. Masalah yang timbul dalam setiap keluarga
berbeda-beda, sesuai dengan a
Untuk
menghadapi masalah-masalah yang timbulpada keluarga yang mempunyai anak dewasa
(20+), kami membagi masalah-masalah
tersebut menjadi beberapa aspek :
Pertama
dalam aspek biologis. Sebuah keluarga yang mempunyai anak
dewasa (20+) biasanya dicirikan dengan usia orang tua yang tidak muda lagi.
Dengan kondisi jasmani yang cenderung menua lambat laun aktivitas kesehariannya
menjadi berkurang. Mereka menjadi cepat lelah dan mudah terserang penyakit. Hal
ini disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas ang harus dijalani, misalnya
seorang dosen yang harus berada di kampus mulai pukul 07.00 sampai 18.00, belum
lagi jika terdapat agenda selain mengajar seperti penelitian atau mmengisi
seminar di berbagai daerah. Dengan usia yang tak lagi muda, membuat para
orangtua mudah terserang penyakit. Seharusnya dengan usia yang tak lagi
sedikit, orangtua harus pandai-pandai
mengatur waktu. Ia harus meluangkan sedikit waktunya untuk beristirahat dan
berolahraga. Menjaga pola makan yang menjadi sumber energi untuk menjalankan aktivitas
kesehariannya.
Anak
yang telah berusia 20+ dicirikan dengan tubuh yang dirasa mampu untuk
menjalankan berbagai aktivitas, karena ia memiliki sistem imun, organ tubuh dan
stamina yang optimal. Namun dengan kondisi orangtua yang masih bekerja menyebabkan
anak tumbuh menjadi seorang pemalas. Ia hidup bergantung kepada orangtua,
karena anak menganggap bahwa hasil jerih payah orangtuanya mampu untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Seharusnya, orangtua mengajarkan sikap mandiri kepada anak
sejak dini, sehingga tidak menyebabkan anak tumbuh dengan sikap manja dan
bergantung kepada orangtua.
Kedua,
dalam aspek psikologis. Orangtua yang telah memiliki anak dewasa
(20+) cenderung menutup diri dari anaknya. Jika mereka bertengkar, mereka lebih
memilih untuk menyelesaikannya tidak di depan anak. Terkadang mereka juga
merasa terbebani jika memiliki anak perempuan yang belum menikah (takut telat
menikah). Jika nanti anaknya sudah mempunyai pekerjaan, orangtua cenderung
menggantungkan hidupnya ke anak. Kurangnya keterbukaan antara anggota keluarga
menyebabkan timbulnya sikap tertutup untuk menyelesaikan masalah yang ada. Hal
ini menyebabkan hubungan dalam keluarga tidak harmonis, karena masing-masing
anggota saling tertututp. Dengan anak
menjadi tulang punggung keluarga, dapat menyebabkan anak semena-mena
memperlakukan orangtua. Karena anak meras telah mampu menghidupi orangtuanya.
Anak perempuan yang belum menikah, padahal umurnya sudah cukup dianggap sebagai
beban orangtua. Karena pandangan masyarakat terhadap wanita yang telat untuk
menikah dipandang sebagai aib dalam keluarga.
Untuk menyikapi hal ini, sebaiknya dalam keluarga sering diadakan
musyawarah. Menyelesaikan permaslahan sekecil apapun secara bersama. Setiap
anggota keluarga diberikan hak untuk mencapaikan pendapatnya. Sangat dianjurkan
untuk anak perempuan pandai merawat diri, menjaga kebersihan jasmani serta
rohani, selalu berikhtiyar serta
berdo’a. Anak di dampingi dan di beri
pengetahuan tentang balas budi terhadap orangtua. Bagaimanapun juga tetap tidak
ada anak hebat yang terlahir dari orangtua yang tidak hebat pula.
Ketiga,
dalam aspek sosial. Biasanya orang
tua yang memiliki anak dewasa (20+)
cenderung lebih mementingkan dunia kerjanya dibandingkan anaknya karena
mereka menganggap bahwa anaknya sudah mandiri dan tak perlu lagi dampingan dari
orang tua, dan pada usia dewasa ini (20+) kebanyakan anak sudah mempunyai
keluarga sendiri (menikah) sehingga orang tua tidak lagi ikut terlibat. Namun
ketika dalam kondisi seperti ini akan menimbulkan kesenjangan dalam keluarga
karena kurangnya komunikasi antar keduanya, untuk itu harusnya dari keduanya
dapat meluangkkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, sharing bersama, orang
tua tetap memberikan nasehat pada anaknya namun tidak untuk memberikan keputusan,
mengembalikan pilihan pada anak. Karena ketika anak tidak didampingi dan jauh
dengan ornag tua maka anak cenderung kurng perhatian pada keluarga, anak
menjadi lebih liar, anak merasa bimbang dalam mengambil keputusn dan juga akan
timbul sifat merasa benar sendiri, lebih berkuasa. Untuk itu meskipun anak
sudah dewasa harus tetap didampingi oleh orang tuanya karena sebenarnya anak
masih membutuhkan pndapat dan nasehat-nasehat dari orang tuanya namun tidak
terlalu protektif.
Keempat,dalam
aspek berfikir : Biasanya orang tua yang memiliki anak
dewasa (20+) dalam segi berfikir, mereka
lebih membebaskan anak, cenderung tidak mengekang dalam mendidik anak. Karena
mereka berfikir anak sudah bisa membedakan atau memilih mana yang menurut ia
benar dan mana yang salah. Untuk itu orang tua cenderung membebaskan anaknya.
REFERENSI
Desmita. 2007. Psikologi
Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bandung. Hurlock,E.B.2002.Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan
sepanjang rentang kehidupan (edisi 5). Jakarta: Erlangga.
Ila Djamu. “Masa Tua”. Online. http://ml.scribd.com/doc/57281615/MASA-TUA.
Diakses: 16 September 2012.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan .
Jakarta : Kencana.
Mappiare, Andi. 1993. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha
Nasional.
Mubin & Cahyadi, Ani . 2006. Psikologi
Perkembangan. Jakarta: Quantum Teaching.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar