Selasa, 23 Desember 2014

PROBLEM SOLVING KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK DEWASA (20+)



PROBLEM SOLVING KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK DEWASA (20+)
 (Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi KeluargaII)
Dosen Pengampuh:
Dr. Hj. Mufidah CH,M.Ag

Description: D:\KULIAH\2 SEMESTER\أحمد مكي حسن\Pertemuan VI\LOGO UIN MMI trans .png

Disusun Oleh:
   Lalu Abdul Ghafur
   Rahmat Ramadhan
Fatimatuz Zahro
Ummu Aemanah
                Ulul Mu’jizatil Himmah   

JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIKIBRAHIM MALANG
2014





PERKEMBANGAN FISIK TIAP FASE

Secara umum, segala bentuk fisik, rangka tubuh maupun tinggi dan lebarnya tubuh seseorang dapat menunjukkan sifat kedewasaan pada suatu individu, hal ini memang kerap kali digunakan sebagai ukuran kedewasaan seseorang. Akan tetapi, segi fisik saja belum dapat sepenuhnya menjamin kedewasaan seseorang karena banyak individu yang telah cukup usia dan kelihatan begitu dewasa tetapi ternyata masiih sering terlihat bahkan memperlihatkan sifat kekanak-kanakannya. Oleh sebab itu kita harus mengetahui apakah suatu individu dapat menghadapi segala persoalannnya dengan mandiri, apakah individu tersebut telah dapat membedakan baik buruknya serta manfaat dan ruginya sebuah permasalahan hidup, adanya kepercayaan pada diri sendiri, dapat mengontrol emosi serta bersabar jika mendapatkan suatu masalah.

Adapun perkembangan fisik dewasa tiap fase, yaitu:
A.    Fase Dewasa Awal (Early Adulthood)
Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis. Menurut Hurlock (1990), dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai 40 tahun, dimana saat perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan produktif. Dari segi fisik , masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembanagan fisik sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit demi sedikit mengikuti bertambahnya umur. Pada masa dewasa awal  motivasi untuk meraih sesuatu yang sangat besar didukung oleh kekuatan fisik yang prima, sehingga ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa dewasa awal adalah masa dimana kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masalah.
Ciri-ciri fisik dewasa awal, yaitu:
a.      Efisiensi fisik mencapai puncaknya, terutama pada usia 23-27 tahun;
b.     Kemampuan reproduktif mereka berada di tingkat yang paling tinggi, pada perempuan menjadi masa kesuburan yang baik;
c.      Kekuatan tenaga dan motorik mencapai masa puncak;
d.     Kesehatan fisik berada pada keadaan baik.
B.    Fase Dewasa Tengah/Madya (Middle Adulthood)
Masa dewasa madya dimulai pada usia 40 tahun sampai 60 tahun. Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik yang sudah mulai agak melemah, termasuk fungsi-fungsi alat indera, dan mengalami sakit dengan penyakit tertentu yang belum pernah dialami (rematik, asam urat dll). Menurut Hurlock (1980), baik pria maupun wanita selalu ketakutan akan penampilan fisiknya, pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan pasangan mereka. Peneliatian Nowark (1977) yang dikutip dari Santrock (1995), menemukan bahwa perempuan yang berusia dewasa madya menganggap tanda-tanda penuaan sebagai pengaruh negatif terhadap penampilan fisiknya.
Ciri-ciri fisik dewasa tengah, yaitu:
a.      Berat badan bertambah, bahu seringkali membentuk bulat, dan terjadi penggemukan seluruh tubuh yang membuat perut kelihatan menonjol sehingga seseorang kelihatan lebih pendek;
b.     Otot menjadi lembek dan mengendur disekitar dagu, pada lengan dibagian atas dan perut;
c.      Mulai menurunnya kekuatan fisik, fungsi motorik dan sensori;
d.     Gangguan pada ersendian, tungkai, lengan yang membuat mereka sulit berjalan dan memegang benda yang jarang terjadi pada usia muda;
e.      Mulai terjadinya proses menua secara gradual, maksudnya terlihat tanda-tanda bahwa dirinya mulai tua, seperti tumbuhnya uban di kepala, rambut pada wajah tumbuh lebih lambat dan kurang subur, adanya kerutan-kerutan pada bagian wajah, kemampuan fungsi mata berkurang.
-        Rambut pada pria mulai jarang, menipis, dan terjadi kebotakan pada bagian atas kepala, rambut di hidung, telinga, dan bulu mata menjadi lebih kaku
-        Rambut pada wanita semakin tipis dan rambut di atas bibir dan dagu bertambah banyak;
f.      Terjadinya perubahan-perubahan seksual. Kaum laki-laki dapat mengalami Climacterium dan wanita dapat mengalami Menopause. Climacterium dan menopause merupakan tanda berhentinya kemampuan menghasilkan keturunan dan dapat menimbulkan penyakit Melancholia involutive (cemas dan merasa diri tak berguna) peristiwa ini bagi laki-laki lebih lambat datangnya daripada wanita

Ciri-ciri fisik sindrom Menopause:
1.     Sistem reproduksi menurun dan berhenti
2.     Penampilan kewanitaan menurun
3.     Ketidaknyamanan fisik
4.     Berat badan bertambah
5.     Penonjolan pada jari
6.     Perubahan kepribadian
Ciri-ciri sindrom Climaterium pada pria:
1.     Rusaknya fungsi organ seksual
2.     Nafsu seksual menurun
3.     Penampilan kelakian menurun
4.     Gelisah akan kepribadian
5.     Ketidaknyamanan fisik
6.     Menurunnya kekuatan dan daya tahan tubuh.

C.    Fase Dewasa Akhir/Lansia
Masa dewasa akhir adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari usia 60 tahun sampai meninggal yang ditandai dengan adanya perubahan fisik dan psikologis yang semakin menurun. John W. Santrock (2002) mengatakan bahwa ada dua pandangan tentang definisi orang lanjut usia atau lansia, yaitu menurut pandangan orang barat dan orangIndonesia. Pandangan orang barat yang tergolong orang lanjut usia adalah orang yang sudah berumur 65 tahun keatas, dimana usia ini akan membedakan seseorang masih dewasa atau sudah lanjut. Sedangkan pandangan orang Indonesia, lansia adalah orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Lebih dari 60 tahun karena pada umunya di Indonesia dipakai sebagai usia maksimal kerja dan mulai tampaknya ciri-ciri ketuaan.
Ciri-ciri fisik lansia, yaitu:
a.      Kekuatan fisik dan motorik sangat kurang, kadang-kadang ada sebagian fungsi organ tubuhnya tidak dapat dipertahankan lagi;
b.     Sejumlah neuron dan unit-unit sel dasar dari sistem saraf menghilang;
c.      Kesehatan rata-rata sangat menurun, sehingga sering sakit-sakitan;
d.     Perubahan pada gigi, gigi menjadi kuning dan tanggal serta gusi menyusut dan harus lebih sering diganti sebagian atau seluruhnya dengan gigi palsu;
e.      Biji mata menyusut;
f.      Mata kelihatan kurang bersinar daripada ketika mereka masih muda, dan cenderung mengeluarkan kotoran mata yang menumpuk di sudut mata;
g.     Perubahan pada kulit wajah, leher, lengan dan tangan menjadi lebih kering  dan keriput. Kulit di bagian bawah mata mengembung seperti kantung, dan lingkaran hitam di bagian ini menjadi lebih permanen dan jelas. Warna merah kebiruan sering muncul di sekitar lutut dan di tengah tengkuk;
h.     Tulang-tulang menjadi rapuh;
i.       Tulang belakang menjadi bungkuk.


PROBLEM SOLVING KELUARGA YANG MEMPUNYAI ANAK DEWASA (20+)
Keluarga merupakan stuktur organisasi terkecil dalam masyarakat. Ia dapat disebut keluarga minimal terdiri dari pasangan ayah dan ibu. Tidak ada kehidupan tanpa masalah, begitu pula dalam keluarga. Masalah yang timbul dalam setiap keluarga berbeda-beda, sesuai dengan a
Untuk menghadapi masalah-masalah yang timbulpada keluarga yang mempunyai anak dewasa (20+),  kami membagi masalah-masalah tersebut menjadi beberapa aspek :
Pertama dalam aspek biologis. Sebuah keluarga yang mempunyai anak dewasa (20+) biasanya dicirikan dengan usia orang tua yang tidak muda lagi. Dengan kondisi jasmani yang cenderung menua lambat laun aktivitas kesehariannya menjadi berkurang. Mereka menjadi cepat lelah dan mudah terserang penyakit. Hal ini disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas ang harus dijalani, misalnya seorang dosen yang harus berada di kampus mulai pukul 07.00 sampai 18.00, belum lagi jika terdapat agenda selain mengajar seperti penelitian atau mmengisi seminar di berbagai daerah. Dengan usia yang tak lagi muda, membuat para orangtua mudah terserang penyakit. Seharusnya dengan usia yang tak lagi sedikit, orangtua  harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia harus meluangkan sedikit waktunya untuk beristirahat dan berolahraga. Menjaga pola makan yang menjadi sumber energi untuk menjalankan aktivitas kesehariannya.
Anak yang telah berusia 20+ dicirikan dengan tubuh yang dirasa mampu untuk menjalankan berbagai aktivitas, karena ia memiliki sistem imun, organ tubuh dan stamina yang optimal. Namun dengan kondisi orangtua yang masih bekerja menyebabkan anak tumbuh menjadi seorang pemalas. Ia hidup bergantung kepada orangtua, karena anak menganggap bahwa hasil jerih payah orangtuanya mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seharusnya, orangtua mengajarkan sikap mandiri kepada anak sejak dini, sehingga tidak menyebabkan anak tumbuh dengan sikap manja dan bergantung kepada orangtua.
Kedua, dalam aspek psikologis.  Orangtua yang telah memiliki anak dewasa (20+) cenderung menutup diri dari anaknya. Jika mereka bertengkar, mereka lebih memilih untuk menyelesaikannya tidak di depan anak. Terkadang mereka juga merasa terbebani jika memiliki anak perempuan yang belum menikah (takut telat menikah). Jika nanti anaknya sudah mempunyai pekerjaan, orangtua cenderung menggantungkan hidupnya ke anak. Kurangnya keterbukaan antara anggota keluarga menyebabkan timbulnya sikap tertutup untuk menyelesaikan masalah yang ada. Hal ini menyebabkan hubungan dalam keluarga tidak harmonis, karena masing-masing anggota saling tertututp.  Dengan anak menjadi tulang punggung keluarga, dapat menyebabkan anak semena-mena memperlakukan orangtua. Karena anak meras telah mampu menghidupi orangtuanya. Anak perempuan yang belum menikah, padahal umurnya sudah cukup dianggap sebagai beban orangtua. Karena pandangan masyarakat terhadap wanita yang telat untuk menikah dipandang sebagai aib dalam keluarga.  Untuk menyikapi hal ini, sebaiknya dalam keluarga sering diadakan musyawarah. Menyelesaikan permaslahan sekecil apapun secara bersama. Setiap anggota keluarga diberikan hak untuk mencapaikan pendapatnya. Sangat dianjurkan untuk anak perempuan pandai merawat diri, menjaga kebersihan jasmani serta rohani, selalu  berikhtiyar serta berdo’a.  Anak di dampingi dan di beri pengetahuan tentang balas budi terhadap orangtua. Bagaimanapun juga tetap tidak ada anak hebat yang terlahir dari orangtua yang tidak hebat pula.
Ketiga, dalam aspek sosial. Biasanya orang tua yang memiliki anak dewasa (20+)  cenderung lebih mementingkan dunia kerjanya dibandingkan anaknya karena mereka menganggap bahwa anaknya sudah mandiri dan tak perlu lagi dampingan dari orang tua, dan pada usia dewasa ini (20+) kebanyakan anak sudah mempunyai keluarga sendiri (menikah) sehingga orang tua tidak lagi ikut terlibat. Namun ketika dalam kondisi seperti ini akan menimbulkan kesenjangan dalam keluarga karena kurangnya komunikasi antar keduanya, untuk itu harusnya dari keduanya dapat meluangkkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, sharing bersama, orang tua tetap memberikan nasehat pada anaknya namun tidak untuk memberikan keputusan, mengembalikan pilihan pada anak. Karena ketika anak tidak didampingi dan jauh dengan ornag tua maka anak cenderung kurng perhatian pada keluarga, anak menjadi lebih liar, anak merasa bimbang dalam mengambil keputusn dan juga akan timbul sifat merasa benar sendiri, lebih berkuasa. Untuk itu meskipun anak sudah dewasa harus tetap didampingi oleh orang tuanya karena sebenarnya anak masih membutuhkan pndapat dan nasehat-nasehat dari orang tuanya namun tidak terlalu protektif.
Keempat,dalam aspek berfikir : Biasanya orang tua yang memiliki anak dewasa (20+)  dalam segi berfikir, mereka lebih membebaskan anak, cenderung tidak mengekang dalam mendidik anak. Karena mereka berfikir anak sudah bisa membedakan atau memilih mana yang menurut ia benar dan mana yang salah. Untuk itu orang tua cenderung membebaskan anaknya.








REFERENSI

Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bandung. Hurlock,E.B.2002.Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (edisi 5). Jakarta: Erlangga.
Ila Djamu. “Masa Tua”. Online. http://ml.scribd.com/doc/57281615/MASA-TUA. Diakses: 16 September 2012.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan . Jakarta : Kencana.
Mappiare, Andi. 1993. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional.
Mubin & Cahyadi, Ani . 2006. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Quantum Teaching. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar